Pelni Ingin Tambah Mitra Konsorsium untuk Beli Kapal Pesiar

Miftah Ardhian
23 Juni 2017, 16:24
Kapal Pesiar
ANTARA FOTO | Didik Suhartono

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) mengaku sedang mengevaluasi kembali rencana mendatangkan kapal pesiar (cruise) pada tahun ini. Alasannya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pelayaran ini ingin menambah mitra untuk merealisasikan rencana tersebut, selain dengan anak usaha PT Pertamina (Persero) yaitu PT Patra Jasa.

Direktur Utama Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Elfien Goentoro mengatakan awalnya telah memiliki rencana mendatangkan kapal pesiar dengan nilai investasi Rp 250 miliar bersama Patra Jasa. Namun, belakangan diketahui bahwa kapal yang ingin dibeli oleh Pelni dan Patra Jasa tersebut sudah terjual lebih dulu.

Alhasil, kedua perusahaan ini perlu melakukan evaluasi kembali untuk membeli kapal pesiar lainnya. "Mungkin kami akan menambah konsorsiumnya. Bukan hanya dengan Parta Jasa, tetapi ditambah PT Pelindo atau dengan yang lain," ujar Elfien kepada katadata, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurutnya evaluasi rencana bisnis pengadaan kapal pesiar tersebut perlu dilakukan. Karena  mencari kapal pesiar yang memenuhi kriteria dan kondisi yang diinginkan oleh Pelni tidak mudah dilakukan. Terutama terkait dengan harga jual. (Baca: Terlalu Mahal, Pelni Evaluasi Rencana Beli Kapal dari Jerman)

Evaluasi tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah nilai investasi yang diperlukan, sudah cukup atau masih kurang. Karena itu, Pelni dan Patra Jasa membutuhkan tambahan anggota konsorsium. "Akan segera kami lakaukan perbaikan di rencana bisnisnya. Kapan akan kembali dimulai dan berapa besar nilainya," ujarnya.

Rencana pengadaan kapal cruise ini akan difokuskan pada 10 titik prioritas pariwisata Indonesia yang memungkinkan untuk beroperasi. Pemerintah telah menetapkan 10 titik lokasi pariwisata prioritas. Lokasi-lokasi tersebut meliputi, Mandalika, Labuan Bajo, Pulau Morotai, Pulau Kelayang, Danau Toba, Wakatobi, Gunung Bromo, Candi Borobudur, Pantai Tanjung Lesung, dan Kepulauan Seribu.

(Baca: Pemerintah Siapkan Wisata Kapal Pesiar Bali-Labuan Bajo)

Selain untuk mendukung program pemerintah, kata Elfien, penyedian kapal pesiar ini merupakan salah satu terobosan Pelni meningkatkan pendapatan dan laba. Pemerintah menargetkan pada 2019, jumlah kunjungan wisatawan asing yang masuk ke Indonesia meningkat dua kali lipat menjadi 20 juta kunjungan. Pelni merasa potensi ini perlu dimanfaatkan untuk mendongkrak kinerjanya.

(Baca: Pelni Targetkan Laba 2017 Naik 60 persen)

Apalagi hingga kini Pelni masih belum memiliki satu pun jenis kapal pesiar. Saat ini, Pelni memang memiliki satu kapal dengan tipe 3.000 penumpang, 11 kapal dengan tipe 2.000 penumpang, 9 kapal dengan tipe 1.000 penumpang, dan tiga kapal dengan tipe 500 penumpang.

Selain itu, Pelni juga memiliki satu kapal jenis roll on roll off (RORO) dan satu Kapal Fery Cepat Jetliner. Kemudian, untuk angkutan barang, Pelni tercatat memiliki tiga unit kapal. Sedangkan, untuk kapal perintis berjumlah 46 kapal dan satu kapal berupa kapal ternak.

Advertisement
Reporter: Miftah Ardhian
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait