Kurang Dana, Target Proyek Infrastruktur Kemenhub 2019 Sulit Tercapai

"Kalau kami ikuti itu (seluruh target), anggaran kami (Kemenhub) bisa dua kali lipat dari sekarang"
Ameidyo Daud Nasution
Oleh Ameidyo Daud Nasution
26 Juni 2017, 08:00
Bandara Kertajati
ANTARA FOTO|Akbar Nugroho Gumay

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi merasa pesimistis target pembangunan proyek infrastruktur transportasi 2015-2019 bisa tercapai. Keterbatasan anggaran negara menjadi penyebab utama proyek infrastruktur transportasi terbangun seluruhnya.

Dalam data rencana strategis Kemenhub 2015 hingga 2019 terdapat beberapa target besar, salah satunya pembangunan 306 pelabuhan. Kemenhub mencatat hingga 2016 hanya 56 pelabuhan terbangun. Kemudian target pembangunan rel kereta sepanjang 3.258 kilometer (km), yang hingga tahun lalu baru terbangun 487,7 km.

Selain itu ada pula target pembangunnan bandara baru sebanyak 15 lokasi, namun hingga 2016 hanya 5 bandara terbangun. Pengadaan Bus Rapid Transit sebanyak 3.170 unit pada rentang empat tahun tersebut, tapi dalam dua tahun baru 1.863 unit yang dicapai.

Budi mengatakan kebutuhan dana untuk membangun proyek-proyek tersebut sangat besar apabila mengandalkan dana pemerintah. "Kalau kami ikuti itu (seluruh target), anggaran kami (Kemenhub) bisa dua kali lipat dari sekarang," kata Budi kepada Katadata beberapa waktu lalu.

Pada 2016, Kemenhub mendapat alokasi anggaran sebesar Rp 65 triliun, kemudian turun menjadi Rp 48 triliun pada 2016. Untuk tahun depan 2018 Kemenhub mengusulkan sebesar Rp 50 triliun, lebih tinggi dibandingkan tahun ini yang hanya Rp 45,98 triliun. Usulan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Penyusunan Pagu Kebutuhan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2018.

Karena keterbatasan ini, Kementerian Perhubungan mengaku tidak akan mengejar target tersebut seluruhnya. Budi mengatakan saat ini merasa lebih baik mengejar target kesuksesan program-program Kemenhub seperti Tol Laut ketimbang mengejar satu per satu target tencana strategis di kementeriannya.

Dia merasa apabila program-program prioritas ini dapat dikerjakan, maka anggaran yang dikeluarkan Kemenhub akan lebih kecil. "Jadi tidak usah kami revisi (renstra) tapi kami kejar per program saja, juga agar bermanfaat bagi masyarakat," kata Budi.

Budi mengatakan anggaran tahun depan merupakan kelanjutan dari anggaran tahun ini. Anggaran ini akan digunakan untuk memastikan adanya konektivitas di seluruh Indonesia, sampai daerah terpencil. Anggaran juga dialokasikan untuk proyek transportasi perkotaan seperti MRT (mass rapid transit) dan LRT (light rail transit).

Terkait dengan penggunaan anggaran, dia mengaku akan mengikuti arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yakni mendahulukan program ketimbang fungsi dan proyek di kementeriannya. "Saat ini masih banyak uang berbasis pada proyek, padahal mestinya program jelas, program akan dilaksanakan itu yang akan dilakukan, money follow program." katanya.

Rencana Strategis Kementerian Perhubungan
(Kementerian Perhubungan)

 

Video Pilihan

Artikel Terkait