Menperin: Ramadan Jadi Momentum Dongkrak Pertumbuhan Industri

“Kami akan terus menjaga momentum pertumbuhan industri yang cukup baik pada kuartal pertama”
Dimas Jarot Bayu
6 Juni 2017, 18:24
Menteri Perindustriann Airlangga Hartarto
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai momentum Ramadan dan Idul Fitri saat ini akan bisa mendongkrak pertumbuhan industri di kuartal II-2017. Tren konsumsi masyarakat biasanya mengalami peningkatan pada momentum ini.

Peningkatan konsumsi akan terjadi, terutama pada sektor makanan dan minuman, serta produk tekstil. Beberapa produk makanan dan minuman yang akan naik permintaannya, seperti sirup, nata de coco, biskuit, dan roti. Kemudian beberapa produk tekstil seperti baju, celana, dan sarung.

Airlangga optimistis peningkatan permintaan akan membuat industri sektor makanan dan minuman kuartal II tumbuh lebih tinggi dibandingkan kuartal I. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, pertumbuhan industri makanan dan minuman cukup tinggi, mencapai 8,15 persen. Selain itu, industri tekstil bakal ikut terdongkrak karena tingginya permintaan sarung dan pakaian muslim.

“Kami akan terus menjaga momentum pertumbuhan industri yang cukup baik pada kuartal pertama,” ujar Airlangga, seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Perindustrian, Senin (5/6). (Baca: Tersulut Belanja Ramadan dan Bansos, Ekonomi Kuartal II Diramal Naik)

Kendati permintaan produk saat Ramadhan dan Idul Fitri terjadi, Airlangga meyakinkan harga produk makanan dan minuman masih dalam kisaran yang wajar. Pelaku industri telah menyatakan siap untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga.

Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan pertumbuhan industri tahun ini ditargetkan mencapai 5,1-5,4 persen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Industri pengolahan nonmigas mengalami pertumbuhan positif, sebesar 4,71 persen sepanjang kuartal  I-2017. Angka ini naik dibanding capaiannya pada periode yang sama 2016 lalu di mana pertumbuhannya 4,51 persen.

Untuk mengejar target tahun ini, industri nasional harus dilindungi dari serangan produk impor. Salah satu caranya dengan meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Kemenperin juga tengah menyiapkan sistem informasi perkembangan ekspor dan impor secara berkala. Data ini akan terus di-update setiap bulan dan dapat diakses dengan mudah. Dia berharap hal ini dapat membantu pelaku industri dalam negeri.

(Baca: Menperin: Tumbuhnya Kegiatan Industri Akan Mendongkrak Impor)

“Kami sedang memetakan kebijakan nontarif atau Non-Tariff Measures berbasis Sistem Informasi Ketahanan Industri (SIKI) yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS),” kata Harjanto. SIKI dapat menjadi rujukan data untuk Indonesia dalam mengembangkan kebijakan non tarif untuk ketahanan industri dalam negeri.

Video Pilihan

Artikel Terkait