Lawatan ke Tiongkok, Jokowi Akan Tawarkan 5 Proyek Kereta

"Kami akan usulkan jalur kereta. Jadi bisa produktif, dengan skema dia (operator) bisa membayar sendiri pinjamannya ke Tiongkok"
Miftah Ardhian
10 Mei 2017, 11:16
Kereta bandara
ANTARA FOTO/Lucky R.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama jajaran kementerian terkait akan berkunjung ke Tiongkok. Mereka menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) One Belt One Road (OBOR). Selain itu, pemerintah juga akan menawarkan peluang investasi lima jalur kereta di Indonesia kepada investor asal negeri Tirai Bambu.

Menteri koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan kunjungan pemerintah untuk menghadiri KTT OBOR, menjadi momentum untuk menarik investor Tiongkok menanamkan modal di Indonesia. Apalagi, investasi Tiongkok di Indonesia masih relatif kecil jika dibandingkan dengan negara lain.

Salah satu program yang ditawarkan kepada investor Tiongkok adalah pembangunan infrastruktur berupa jalur kereta di berbagai wilayah di Indonesia. Skema yang ditawarkan adalah, selain membangun jalurnya, investor juga bisa menjadi operator kereta tersebut. 

"Kami akan usulkan jalur kereta. Jadi bisa produktif, dengan skema dia (operator) bisa membayar sendiri pinjamannya ke Tiongkok," ujar Luhut saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa malam (9/5). (Baca: Pemerintah Incar Investasi Tiongkok Lewat Konsep Baru Jalan Sutera)

Luhut mengatakan terdapat beberapa wilayah di Barat dan Timur Indonesia yang masih membutuhkan investasi berupa jalur kereta. Bukan hanya jenis kereta api biasa, di Jakarta juga terdapat proyek Mass Rapit Transit (MRT) East-West yang masih membutuhkan investor. 

Direktur Jenderal Kereta Api Kementerian Perhubungan Prasetyo Boeditjahjono mengatakan pihaknya telah memetakan sedikitnya lima jalur kereta yang akan diajukan untuk memperoleh pendanaan melalui investor dari Tiongkok. Pertama, jalur kereta untuk menghubungkan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kuala Tanjung.

Kedua, jalur dari Siantar ke Parapat dan menuju ke Danau Toba untuk mendukung pariwisata. Ketiga, jalur kereta di Kalimantan untuk mendukung KEK Maloy. Keempat, jalur di sekitar Bitung. Kelima, di Sulawesi untuk jalur Makassar sampai Pare-Pare. "Ini yang ditawarkan di OBOR terkait kereta api," ujarnya.

(Baca: Rini Targetkan Pinjaman Proyek Kereta Cepat Cair Pertengahan Mei)

Meski begitu, Prasteyo mengaku pihaknya masih akan melakukan finalisasi kajian terhadap lima jalur kereta tersebut. Kajian ini terkait dengan kebutuhan dan permintaan (demand) transportasi yang ada untuk jalur-jalur tersebut. Hal ini diperlukan agar investor semakin tertarik membangun infratruktur kereta ini.

"Yang akan ditawarkan tentu harus terkait dengan demand-nya. Belum tau (bagaimana permintaan) penumpang, tapi khususnya untuk barang," ujar Prasetyo.

Sebagai informasi, KTT One Belt One Road merupakan konferensi infrastruktur yang diikuti oleh 29 negara. Penyelenggaran perhelatan akbar ini akan dilakukan di Kota Beijing. Acara ini juga akan dihadiri oleh berbagai investor, terutama yang berasal dari Tiongkok.

Video Pilihan

Artikel Terkait