Investasi Memompa Industri Manufaktur Kuartal I Tumbuh 4,3 Persen

“Industri (manufaktur) menjadi sektor yang memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
Image title
5 Mei 2017, 15:31
Manufaktur
Donang Wahyu|KATADATA

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, industri manufaktur nasional tumbuh 4,33 persen pada tiga bulan pertama tahun ini. Pertumbuhan ini didorong oleh laju investasi sektor industri tersebut yang meningkat. 

Dia memang tidak menyebutkan secara rinci, berapa besar peningkatan investasi yang terjadi pada kuartal I-2017. Menurutnya, tingginya realisasi investasi industri di dalam negeri dipicu oleh pembangunan infrastruktur pendukung yang terus digalakkan pemerintah.

“Yang terpenting adalah iklim bisnis di Tanah Air tetap kondusif. Apalagi pemerintah telah mengeluarkan berbagai paket kebijakan ekonomi. Beberapa sektor seperti industri otomotif, tekstil, dan olahan susu telah merealisasikan investasinya,” katanya di Malang, Jawa Timur, Kamis (4/5).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang disebabkan kenaikan produksi industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar 9,59 persen, industri makanan 8,20 persen, serta industri karet, barang dari karet, dan plastik sebesar 7,80 persen.

Advertisement

Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang di kuartal I-2017 naik 4,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara produksi industri manufaktur mikro dan kecil kuartal I-2017 tumbuh 6,63 persen. (Baca: Kemenperin Fokus Genjot Daya Saing Industri Pengolahan)

Airlangga berharap pertumbuhan industri manufaktur kuartal I bisa bertahan hingga akhir tahun. Menurutnya untuk menjaga pertumbuhan ini, pemerintah perlu melakukan harmonisasi peraturan lintas sektoral. Kemudian menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan baku industri impor.

Selain itu Indonesia juga perlu memperluas negara tujuan ekspor dengan melakukan promosi dagang ke pasar non tradisional, Upaya ini dilakukan dengan terlebih dahulu mencari informasi kebutuhan produk dan hambatan pasar, dalam rangka pengembangan pasar ekspor baru.

(Baca: Laju Ekonomi Kuartal I Terdongkrak Kenaikan Kinerja Ekspor)

Pertumbuhan industri, kata Airlangga, akan bisa terjaga jika kebijakan penurunan harga gas dan listrik bagi industri seluruhnya dapat terealisasi. Apalagi industri pengolahan dinilai mampu memberikan nilai tambah tinggi pada komoditas primer, menyediakan lapangan kerja, mendatangkan devisa dari ekspor, dan menghemat devisa ketika memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Industri (manufaktur) menjadi sektor yang memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya. Pada tahun lalu, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap total PDB mencapai 20,51 persen. Kontribusi tersebut terdiri dari industri pengolahan non-migas sebesar 18,20 persen dan industri pengolahan batubara dan pengilangan migas sebesar 2,31 persen. 

Data Kementerian Perindustrian mencatat sepanjang periode Januari hingga Maret 2017, nilai ekspor nonmigas hasil industri pengolahan naik 19,93 persen dibandingkan kuartal I-2016. Untuk Maret, ekspor nonmigas terbesar adalah ke Tiongkok sebesar US$ 1,78 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 1,51 miliar dan Jepang US$ 1,26 miliar.

Adapun kontribusi ketiga negara ini mencapai 34,72 persen dari total nilai ekspor nonmigas. Sementara ekspor untuk 28 negara Uni Eropa sebesar US$ 1,46 miliar. (Baca: Pidato di Amerika, Sri Mulyani Akan Bangkitkan Sektor Manufaktur)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait