SKK Migas Upayakan Penurunan Produksi Blok Cepu Tak Ganggu Penerimaan

"Insya Allah bisa digantikan dalam 11 bulan ke depan. Waktu maintenance-nya diperpendek".
Anggita Rezki Amelia
14 Februari 2017, 17:37
Blok Cepu
Katadata

Penurunan produksi minyak Blok Cepu hingga 75 persen dalam sepekan lalu, membuat adanya potensi penerimaan yang hilang. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan akan berupaya menutupi potensi penerimaan yang hilang tersebut.

Kepala Humas SKK Migas Taslim Z. Yunus mengakui ada potensi penerimaan negara yang hilang akibat terhambatnya produksi minyak siap jual (lifting) minyak Blok Cepu. Namun, dia tidak menyebutkan berapa besar nilainya. (Baca: Produksi Minyak Blok Cepu Turun 75 Persen)

Dia hanya mengatakan SKK Migas dan kontraktor Blok Cepu akan berupaya mengganti potensi penerimaan yang hilang ini dalam sisa waktu 2017 yang masih panjang. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi masa pemeliharaan (maintenance) fasilitas produksi Blok Cepu tahun ini, agar bisa masa operasinya bertambah.

"Insya Allah bisa digantikan dalam 11 bulan ke depan. Waktu maintenance-nya diperpendek," kata dia kepada Katadata, Selasa (14/2).

Sayangnya Taslim belum mau merinci berapa lama waktu pemeliharaan yang akan diperpendek tahun ini. Dia yakin dengan cara tersebut, kekurangan lifting minyak dari Blok Cepu bisa teratasi, sehingga tidak berdampak pada kerugian negara.

Sebagai diberitakan sebelumnya, sepanjang 5-11 Februari lalu produksi minyak di Blok Cepu turun hingga 75 persen. Dari 200 ribu barel per hari (bph) menjadi hanya 50 ribu bph. Hal ini diketahui saat rombongan Komisi Energi DPR berkunjung ke Blok Cepu pekan lalu. (Baca: Exxon Uji Coba Produksi Lapangan Banyu Urip 200 Ribu Barel)

Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Widya Yudha mengatakan operator Blok Cepu, ExxonMobil, sengaja menurunkan produksinya.  Alasannya untuk menghindari kepenuhan kapasitas (top tank) di fasilitas penyimpanan di Floating Storage Offloading (FSO) Gagak Rimang akibat. Cuaca buruk di laut Tuban membuat kapal tangker yang mengangkut minyak ini sulit bersandar di FSO Gagak Rimang.

Menurut dia, akibat penurunan produksi ini, ada potensi kehilangan pendapatan negara dari minyak yang diproduksi dari Blok Cepu tersebut. Namun, Satya belum bisa mendetailkan berapa besar potensi penerimaan negara yang hilang. Dia memastikan hilangnya potensi penerimaan negara ini hanya sementara.

Namun, Vice President Public and Government Affairs ExxonMobil Indonesia, Erwin Maryoto telah memastikan bahwa saat ini produksi minyak Blok Cepu sudah mulai berangsur normal kembali. Sejak Sabtu pagi (11/2), kondisi cuaca sudah mulai membaik. Kapal-kapal tangker pengangkut minyak sudah bisa berjalan. Dengan begitu, proses lifting dari FSO Gagak Rimang bisa kembali dilanjutkan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait