Akhir Maret, Pertamina dan ExxonMobil Putuskan Nasib Tiung Biru

Dalam pembicaraan Pertamina dan ExxonMobil, ada beberapa opsi yang berkembang, diantaranya farm out dan sole risk. ExxonMobil lebih memilih opsi sole risk.
Anggita Rezki Amelia
13 Februari 2017, 13:09
Blok Cepu
Katadata

PT Pertamina (Persero) terus berupaya memastikan pengembangan lapangan gas Jambaran Tiung Biru di Blok Cepu Jawa Timur tidak molor dari target. Hingga saat ini Pertamina masih melakukan negosiasi komersial lapangan tersebut dengan ExxonMobil.

Senior Vice President Upstream Business Development Pertamina Denie S. Tampubolon menargetkan keputusan dari hasil negosiasi akan diambil pada akhir Maret mendatang. Karena jika keputusan tersebut molor, maka produksi gas Jambaran Tiung Biru baru bisa molor dari jadwal yang telah ditargetkan, yakni pada 2020.

"Jadi akhir Maret bisa ketahuan kami dan ExxonMobil ketemu (kesepakatan) apa enggak. Kalau ketemu kami jalan bareng. Kami harap mudah-mudahan ketemu," kata Denie akhir pekan lalu di gedung DPR. (Baca: Pertamina Nego Hak Kelola Exxon di Lapangan Tiung Biru)

Denie mengatakan dalam negosiasi tersebut juga telah melibatkan perwakilan ExxonMobil dari Houston, Amerika serikat. Kedatangan tim ini ke Indonesia adalah untuk membicarakan negosiasi Lapangan Jambaran Tiung Biru dengan Pertamina.

Dalam pertemuan ini, terdapat beberapa opsi yang berkembang dalam pembicaraannya. Opsi ini diantaranya skema pengalihan hak dan kewajiban (farm out) yang dipegang ExxonMobil kepada Pertamina. 

Opsia lainnya adalah sole risk. Menurut Denie, dengan skema ini Pertamina bekerja sendirian pada proyek tersebut. Sebaliknya, ExxonMobil tidak melakukan kegiatan dan tidak menerima bagi hasil. Adapun dengan skema ini, Pertamina mengeluarkan investasi secara mandiri dan mendapatkan bagi hasil secara penuh.  

Denie menilai masing-masing opsi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan opsi farm out, proses penyelesaiannya akan memakan waktu lama dan bisa mengancam proyek tersebut molor. Apalagi Lapangan Jambaran Tiung Biru merupakan bagian dari kontrak PSC Blok Cepu.

(Baca: ExxonMobil Minta Alokasi Gas Tiung Biru Seluruhnya untuk Pertamina)

Sementara dengan opsi skema sole risk, kepemilikan ExxonMobil masih ada pada lapangan tersebut. Namun, prosesnya akan lebih cepat, sehingga pengembangan Lapangan Jambaran Tiung Biru bisa sesuai target. Bahkan, kata dia, secara prinsip ExxonMobil mendukung opsi tersebut.

Vice President Public and Goverment Affair ExxonMobil Erwin Maryoto pernah mengatakan pihaknya tidak menutup kemungkinan jika Pertamina memang ingin membeli hak kelolanya di Lapangan Tiung Biru. “Kami siap berdialog dan terbuka terhadap semua kemungkinan yang terbaik bagi semua pihak,” ujarnya.

Hingga kini opsi-opsi tersebut masih menjadi kajian dalam diskusi dan belum ada keputusan. Ia berharap setelah negosiasi selesai, maka proses Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) Gas Tiung Biru bisa dilakukan. Apalagi realokasi gas dari Lapangan Tiung Biru dari PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC) kepada Pertamina sudah disetujui Menteri ESDM. '' Kalau ini selesai kami langsung tandatangan PJBG,'' kata Denie.

(Baca: Pemerintah Tolak Permintaan Insentif Proyek Jambaran-Tiung Biru)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait