Dukung Pemerintah Genjot Pariwisata, Pelni Siapkan Kapal Pesiar

"Kami sinergi dengan BUMN perhotelan, seperti holding Hotel Indonesia untuk peningkatan pariwisata juga"
Miftah Ardhian
4 Januari 2017, 17:08
Tol Laut
Arief Kamaludin|KATADATA
Kapal tol laut ini merupakan Kapal Caraka Jaya Niaga III-4 milik PT Pelni, yang melayani jalur Jakarta-Kepulauan Natuna dan beroperasi secara berjadwal.

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) menyatakan akan mendukung upaya pemerintah meningkatkan sektor pariwisata nasional. Melalui sinergi beberapa perusahaan pelat merah, Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) akan menyediakan kapal pesiar (cruise) yang berlayar di beberapa titik kawasan wisata prioritas.

"Kami sinergi dengan BUMN perhotelan, seperti holding Hotel Indonesia untuk peningkatan pariwisata juga," kata Direktur Utama Pelni Elfien Guntoro saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (4/12). (Baca: Jokowi Ancam Copot Arief Yahya Jika Turis Asing Tak Sampai 20 Juta)

Saat ini pembicaraan mengenai sinergi usaha dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait ini masih dilakukan. Rencananya Pelni akan menyediakan unit kapal dan perjalannya. Sedangkan untuk pengelolaan layanan kapal pesiar tersebut dilakukan oleh Hotel Indonesia sebagai operator.

Saat ini dia belum bisa memastikan berapa besar investasi yang dibutuhkan untuk bisnis ini. Namun, diperkirakan nilainya untuk penyediaan kapalnya mencapai Rp 250 miliar. Dia pun belum bisa memastikan apakah biaya ini akan ditanggung sendiri oleh Pelni, atau bersama dengan BUMN terkait lainnya.

"Tidak tutup kemungkinan ke depan Pelni akan bentuk perusahaan sendiri atau melakukan joint venture (JV)," ujarnya. (Baca: Rekor Baru, Kunjungan Wisatawan Asing Juli 2016 Tembus 1 Juta)

Rencananya, kapal cruise ini akan difokuskan pada 10 titik prioritas pariwisata Indonesia yang memungkinkan untuk beroperasi. Seperti diketahui, pemerintah telah menetapkan 10 titik lokasi pariwisata prioritas. Lokasi-lokasi tersebut meliputi, Mandalika, Labuan Bajo, Pulau Morotai, Pulau Kelayang, Danau Toba, Wakatobi, Gunung Bromo, Candi Borobudur, Pantai Tanjung Lesung, dan Kepulauan Seribu.

Menurutnya selain untuk mendukung program pemerintah, penyedian kapal pesiar ini merupakan salah satu terobosan Pelni meningkatkan pendapatan dan laba. Pemerintah menargetkan pada 2019, jumlah kunjungan wisatawan asing yang masuk ke Indonesia meningkat dua kali lipat menjadi 20 juta kunjungan. Pelni merasa potensi ini perlu dimanfaatkan untuk mendongkrak kinerjanya.

(Baca: Asing Boleh Masuk, Investasi Sektor Pariwisata Melejit 100 Persen)

Untuk meningkatkan pendapatan tahun ini, Pelni juga akan mengoperasikan kapal-kapal khusus. Kapal ini tak hanya digunakan untuk akutan penumpang orang, melainkan untuk distribusi barang. Kapal ini juga akan menyediakan semacam tempat pertemuan dan tempat bermain. Elfien berharap fasilitas di kapal ini bisa menarik minat masyarakat menggunakan laut, di tengah serbuan maskapai penerbangan murah.

Dia mengakui jenis kapal ini diperkirakan akan menurunkan tren jumlah penumpang ataupun barang sebanyak satu persen. Tetapi, dengan fasilitas-fasilitas yang akan disediakan, tentunya harga tiket kapal ini akan mengalami sedikit kenaikan. Sehingga kinerja perusahaan dapat terjaga, bahkan ditingkatkan. 

(Baca: Pemerintah Genjot Pembangunan Tiga Destinasi Wisata)

Rencana ini pun masih dalam tahap pengkajian secara menyeluruh. Pelni harus mempertimbangkan lokasi-lokasi yang tepat untuk menyediakan kapal jenis ini. Namun, Elfien memastikan, untuk meningkatkan konektivitas antarpulau di Timur Indonesia, Pelni tetap akan menyiapkan kapal kelas ekonomi agar biaya perjalanan masyarakat tidak semakin besar.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait