Bangun Rel Sumatera dan Sulawesi, Kemenhub Berencana Utang ke Cina

Ameidyo Daud Nasution
10 Mei 2016, 19:21
Rel Kereta
Donang Wahyu | KATADATA

Kementerian Perhubungan mengusulkan untuk mengajukan pinjaman kepada Cina untuk membiayai proyek infrastruktur. Pinjaman ini akan digunakan untuk membangun sejumlah rel perintis di pulau Sumatera dan juga Sulawesi.

“Kami usulkan nantinya dapat masuk di Bluebook (buku daftar utang Pemerintah),” kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto Dwiatmoko, saat konferensi pers di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Selasa (10/5).

Dia mengatakan tidak mungkin menawarkan proyek pembangunan rel ini kepada pihak swasta. Karena proyek ini masih dinilai tidak ekonomis. Makanya pemerintah yang harus mendanai proyek ini sendiri. Terkait dengan rencana ini Menteri Perhubungan Ignasius Jonan secara khusus menyambangi Negeri Tirai Bambu. (Baca: Perancis Berminat Garap Proyek Kereta Api)

Selain dua proyek tersebut, Kemenhub saat ini juga akan melakukan revitalisasi perangkat kereta lintas utara Pulau Jawa. Revitalisasi dilakukan agar kereta yang berkecepatan rendah ini bisa memiliki kecepatan medium (sekitar 150 kilometer per jam).

Untuk proyek revitalisasi ini, kementerian telah menawarkan kepada Jepang. Apalagi investor Negeri Sakura ini sangat tertarik untuk menggarap kereta berkecepatan medium. “Saya pernah tanyakan (ke Jepang) dan sepertinya ada komitmen dari mereka,” kata Hermanto. (Baca: Pemerintah Siapkan Dua Perusahaan Kereta Bergabung)       

Menurut Hermanto, selama ini keterbatasan anggaran menjadi alasan utama dibalik seretnya kemajuan pembangunan rel kereta yang telah direncanakan tahun lalu. Sepanjang 2015 Kemenhub hanya berhasil membangun rel sepanjang 47 kilometer rel dari total target 3.285 kilometer. Kebutuhan dana yang diperlukan untuk pembangunan proyek ini mencapai US$ 6,5 miliar.

Kesulitan pendanaan diperparah dengan adanya penghematan yang terpaksa harus dilakukan Kementerian Perhubungan. Dia mengatakan Direktorat Jenderal Perkeretaapian harus memotong anggarannya dari Rp 18 triliun menjadi Rp 13 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2016.

“Mau tidak mau kami harus cari pendanaan lain, yang bisa dibayar belakangan,” ujarnya. (Baca:
Biaya Susut Rp 5 Triliun, Proyek Kereta Cepat Rampung Mei 2019

Sebelumnya, Jonan sempat mengatakan pembangunan jalur kereta api Trans Sumatera dan Sulawesi, termasuk dalam tiga trase kereta api pulau besar yang akan difokuskan pembangunannya pada tahun ini. Sementara Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) telah menetapkan pembangunan rel kereta api Makassar–Pare Pare di Sulawesi sebagai salah satu dari 30 proyek infrastruktur prioritas.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait