Pertamina Klaim Harga LPG Subsidi Paling Murah di Asia

Pertamina belum punya rencana menurunkan harga LPG
Safrezi Fitra
12 Februari 2016, 21:07
LPG Elpiji Pertamina
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA - PT Pertamina (Persero) mengklaim harga LPG (liquefied petroleum gas) atau Elpiji yang dijual di Indonesia lebih murah dibandingkan negara-negara lain di Asia. Padahal Indonesia masih mengimpor lebih dari setengah kebutuhan LPG nasional.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan harga LPG 3 kilogram (kg) yang dijual Pertamina lebih murah dari harga LPG bersubsidi di tiga negara Asia. Harga LPG bersubsidi di Indonesia hanya Rp 4.250 per kg. Sedangkan di India, Thailand, dan Malaysia yang harganya di atas Rp 5.000 per kg.

"Ada tambahan Rp 4.200 lagi dari pemerintah untuk bantu subsidi LPG 3 kg, ini nilainya cukup besar," ujar Wianda dalam media briefing di Jakarta, Jumat (12/2).

Bukan hanya yang bersubsidi, Pertamina juga mengklaim harga Elpiji nonsubsidi di Indonesia lebih murah dari China, Korea Selatan, Jepang, dan Filipina. Harga LPG nonsubsidi baik yang berkapasitas 5,5 kg dan 12 kg berkisar antara Rp 7.400 – Rp 10.000 per kg. Sedangkan di empat negara tersebut harganya berkisar dari Rp 12.000 – Rp 24.000 per kg. Dari data World LP Gas Association (WLPGA) yang dikutip Wianda,  Filipina ternyata memimpin harga LPG nonsubsidi paling mahal dari negara-negara yang lain. (Baca: Turunkan Harga Elpiji, Pertamina Pindahkan Storage dari Kapal ke Darat)

Harga LPG di Asia
Harga LPG di Asia (Pertamina)

Tren penurunan harga minyak dunia membuat harga LPG yang merupakan produk turunannya pun turun. Namun, kata Wianda, saat ini Pertamina belum berencana menurunkan harga LPG. Terutama untuk tabung 3 kg yang sudah lama harganya tidak turun. Hanya LPG nonsubsidi 12 kg yang harganya sempat turun Rp 467 per kg. 

Selama ini Pertamina masih mengimpor 60 persen LPG untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri. Tahun ini Pertamina menargetkan porsi impornya bisa berkurang hingga 8 persen menjadi 53 persen. Pengurangan impor ini terjadi karena produksi dalam negeri meningkat. Peningkatannya disumbang dari Kilang Kilacap, Kilang TPPI dan ilang Mundu. (Baca: Revitalisasi Kilang Mundu Diklaim Bisa Kurangi Impor Elpiji)

Pengurangan impor bisa dilakukan meski konsumsi LPG tahun ini mengalami peningkatan. Tahun ini konsumsi LPG diperkirakan mencapai 7,8 juta ton, terdiri dari 6,6 juta ton LPG bersubsidi dan 1,2 juta ton nonsubsidi. Sementara tahun lalu konsumsinya hanya 7 juta ton.

Pertamina mencatat saat ini sudah ada 89 juta tabung LPG 3 kg yang beredar di dalam negeri sejak 2008. Jumlah paket perdana yang dibagikan lewat program konversi minyak tanah ke LPG sebanyak 57,19 juta paket. Sedangkan jumlah agen distribusi LPG tabung 3 kg mencapai 3.250 agen dan 128.044 pangkalan yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali.

Menurut Wianda tren pnyaluran LPG 3 kg  paling masif terjadi di 2010-2012 yakni di area Sumatra dan Jawa. Jawa Barat menjadi salah satu provinsi terbesar yang menyerap LPG 3 kg hingga 1,16 juta ton tahun 2015. Sehingga tahun 2016 kuota APBN-nya ditambah menjadi 1,2 juta ton. (Baca: Konversi Minyak Tanah ke Elpiji Hemat Rp 189 Triliun)

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait