Konsultan Belum Ditunjuk, ESDM Optimistis Keputusan Blok Masela Sesuai Jadwal

?Seperti biasa kalau PoD diajukan ke menteri, mentri akan mengevaluasi yang jangka waktunya bisa sampai enam bulan?
Safrezi Fitra
6 November 2015, 11:43
IGN Wiratmaja
Arief Kamaludin|KATADATA
IGN Wiratmaja

KATADATA - 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih belum menunjuk konsultan independen untuk melakukan kajian Blok Masela. Meski begitu, mereka tetap menargetkan keputusan mengenai rencana pengembangan (plan of development/PoD) Blok Masela akan selesai akhir tahun ini.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja mengatakan pihaknya masih mengevaluasi konsultan yang mampu mengkaji pengembangan Blok Masela secara kuantitatif. Sehingga kementerian bisa mendapat skenario produksi yang paling tepat untuk blok migas tersebut, apakah menggunakan fasilitas kilang terapung (FLNG) atau skema pipa di darat.

(Baca: Enam Perusahaan Global Berebut Jadi Konsultan Blok Masela)

Advertisement

“Masela saat ini statusnya sedang evaluasi konsultan yang world class untuk review dan kajian. Hasilnya dapat menentukan letak terbaik kilang LNG Masela,” kata Wiratmaja dalam keterangannya di situs resmi Kementerian ESDM, kemarin.

Konsultan ini akan mengkaji dengan tingkat kedalaman yang sama antara skema kilang di darat dengan di laut. Hasil kajian ini diharapkan bisa menyelesaikan polemik yang sedang terjadi terkait pengembangan Blok Masela. (Baca: Rizal vs Amien di Blok Masela)

Meski belum juga menunjuk konsultan tersebut, Wiratmaja masih yakin hasil kajiannya bisa selesai sebelum akhir tahun ini. Jangka waktu yang kurang dari dua bulan masih wajar bagi konsultan melakukan kajiannya. Dia juga optimistis keputusan mengenai revisi PoD I Blok Masela akan selesai sesuai jadwal.

“Seperti biasa kalau PoD diajukan ke menteri, mentri akan mengevaluasi yang jangka waktunya bisa sampai enam bulan,” ujarnya. (Baca: ESDM Targetkan Kajian PoD I Blok Masela Selesai Dalam 2 Bulan)

Sementara itu, Fabby Tumiwa Eksekutif Institute for Essential Service Reform menyatakan dilema antara kilang darat dan terapung terjadi karena cadangan gas Blok Masela yang bertambah. “Dulu sudah diputuskan FLNG karena pada saat itu reserve gas tidak terlalu besar. Kemudian reserve gas lebih besar jadi dianggap pakai pipa menjadi feasible,” ujarnya.

Pemerintah harus membuat kajian mendalam perhitungan biaya dan manfaat dari dua opsi skema darat atau laut. Skema yang dipilih, harus memberikan efek berantai yang besar bagi perkonomian nasional dan penerimaan negara. (Baca: Pemerintah Diminta Utamakan Efek Berantai di Blok Masela)

Sebagai informasi saat ini cadangan gas Lapangan Abadi di Blok Masela diperkirakan mencapai 10,73 triliun kaki kubik (TCF). Saat PoD 1 yang disetujui pemerintah pada 2010, cadangan gas yang ditemukan di lapangan tersebut hanya 6-9 TCF.

Peningkatan cadanganini hasil evaluasi pada tiga sumur pegembangan yang di bor Juni 2013 hingga April 2014. Dengan penemuan cadangan gas baru ini, Inpex (operator blom tersebut) mengajukan penambahan kapasita fasitilas pengolahan gas dari 2,5 juta ton per tahun (MTPA) menjadi 7,5 MTPA. (Baca: Pakai Skema Darat, Proyek Blok Masela Bisa Molor)

Reporter: Manal Musytaqo
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait