Kaltim Agresif Dekati Investor Arab Bangun Kilang di Bontang

Pemprov Kaltim sudah dua kali menemui investor Arab untuk membangun kilang di Bontang. Investor ini dijadwalkan akan datang ke Kaltim pada 24 Oktober 2015
Safrezi Fitra
8 Oktober 2015, 15:28
Kilang Minyak
KATADATA
Kilang Minyak

KATADATA - Pemerintah cukup agresif mendekati investor Arab Saudi agar mau merealisasikan niatan lamanya membangun kilang di Indonesia. Bukan hanya pemerintah pusat, pemerintah daerah pun sampai menyempatkan waktu untuk berkunjung ke negara tersebut untuk membicarakan hal ini.

Investor Arab sebelumnya memang sudah mengirimkan surat kepada pemerintah mengenai minat investasinya membangun kilang. Menindaklanjuti surat tersebut, Presiden Joko Widodo berkunjung ke Arab Saudi pada pertengahan September lalu. Dari pertemuan tersebut, perusahaan migas asal negara tersebut menyatakan keinginannya membangun kilang senilai US$ 10 miliar atau sekitar Rp 140 triliun di Indonesia.

Investor asal Arab Saudi terlihat cukup agresif untuk merealisasikan niatnya membangun kilang di Indonesia. Setelah sebelumnya menyurati pemerintah terkait minat ini, investor tersebut juga telah menentukan lokasi pembangunan kilang tersebut dan telah melakukan pembicaraan serius dengan pemerintah daerah setempat.

Staf Ahli Gubernur Kalimantar Timur Profesor Zain Helvin mengatakan pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dua kali bertemu dengan investor tersebut di Jeddah, Arab Saudi. Hasil pertemuan tersebut, investor Arab berkomitmen membangun kilang di Bontang, Kalimantan Timur. 

Untuk melanjutkan pembicaraan investasi ini, para investor tersebut akan datang ke Indonesia pada 20 Oktober. “Insyaallah akan ke Samarinda pada 24 Oktober dan langsung meninjau Balikpapn dan bontang,” kata Zein, di Balik Papan, Kalimantan Timur (6/10). (Baca: BKPM Janjikan Insentif Jika Saudi Aramco Jadi Bangun Kilang)

Gubernur Kaltim Awang Faroek merasa yakin investor tersebut akan merealisasikan niatnya. Bahkan dia menyebut investor ini siap menggunakan dananya sendiri untuk membangun kilang, jika pemerintah tidak memiliki anggaran. Dia menyebutkan bahwa investor ini sudah siap memulai pembangunan (groundbreaking) kilangnya tahun ini.

Direktur Pembinaan Hulu Migas Kementerian ESDM Joko Siswanto menyambut baik informasi keinginan investor Arab Saudi dalam proyek pembangunan kilang Bontang. Masalahnya, belum jelas apakah investor tersebut akan berinvestasi sendiri atau dengan menggandeng PT Pertamina (Persero).

Saat ini proyek pembangunan kilang masih menunggu Peraturan Presiden (Perpres) yang diharapkan dapat segera terbit dalam waktu dekat. Dalam draf perpres ini pemerintah menugaskan Pertamina untuk membangun kilang baru dengan anggaran negara. Pertamina bisa menggandeng swasta untuk penugasan ini. Namun, tidak ketentuan yang memudahkan swasta membangun kilang sendiri, tanpa bekerjasama dengan Pertamina.

Joko mengatakan sangat baik jika investor swasta berinvestasi sendiri, mengingat tidak ada kilang baru yang dibangun Pertamina sepanjang empat puluh tahun terakhir. Pemerintah perlu mengakomodasi hal ini dengan memberi perlindungan dan kemudahan. (Baca: Pemerintah Beri Peluang Swasta Kelola Kilang Minyak Secara Penuh)

Jika swasta murni maka akan menambah satu point di perpres pembangunan kilang, sebelum ditandatangani Presiden. “Kalau itu dimasukan (dalam perpres) dan boleh maka presiden tinggal tandatangan dan jalan,” kata Djoko.

Keinginan investor Arab, Saudi Aramco untuk membangun kilang di Indonesia sebenarnya sejak beberapa tahun lalu. Bahkan, perusahaan ini telah melakukan studi kelayakan pembangunan kilang di Tuban, Jawa Timur, bersama Pertamina. Hanya karena ada beberapa insentif yang diminta tidak bisa dipenuhi pemerintah, rencana tersebut akhirnya batal.

(Baca: Jadi Offtaker, Pertamina Minta Saham di Kilang Swasta)

 

Kontributor: Mukmin Azis

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait