Gunakan Dolar, Pelindo II Bantah Langgar UU Mata Uang

UU Mata Uang menyebut transaksi perdagangan internasional tidak wajib menggunakan rupiah
Safrezi Fitra
18 Maret 2015, 16:54
Katadata
KATADATA

KATADATA ? Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Richard Joost Lino merasa pihaknya tidak melanggar Undang-Undang Mata Uang, meski masih ada 30 persen transaksi di pelabuhannya menggunakan dolar Amerika Serikat (AS).

Lino menganggap transaksi untuk bongkar muat kontainer ekspor dan impor (Container Handling Charge/CHC) sudah sesuai dengan ketentuan UU tersebut. Transaksi ini dilakukan melalui transfer elektronik antara Pelindo dan pemilik kapal kargo yang berada di luar negeri.

?Pengenaan tarif CHC dengan dolar AS sudah sesuai dengan UU (Mata Uang) dan juga dibolehkan,? ujar Lino kepada Katadata, Rabu (18/3). Sementara untuk kegiatan pengiriman kontainer dalam negeri dan juga tarif kontainer diinapkan di pelabuhan Pelindo II, seluruhnya sudah menggunakan rupiah.

Dalam Pasal 21 Ayat 2 UU Mata Uang memang disebutkan bahwa kewajiban menggunakan rupiah dikecualikan dari beberapa transaksi. Beberapa transaksi tersebut diantaranya perdagangan internasional dan pembiayaan internasional.

Advertisement

Lino menyebut ongkos CHC yang dibayarkan perusahaan pelayaran (shiping line) kepada Pelindo sebesar US$ 83 per TEU (Twenty-foot Equivalent Unit). Apabila dibandingkan ongkos yang dibayarkan pemilik barang kepada shipping line yang mencapai US$ 1.500 per TEU sangat kecil, atau hanya 5,5 persen.

 ?Apalagi kalau dibandingkan dengan nilai impor kontainer misalnya sebesar US$ 30.000 per TEU. Maka  CHC-nya hanya sebesar 0,27 persen dibanding dengan nilai container impornya,? ujar Lino.

Lino mengatakan apabila transaksi tersebut dipaksa menggunakan rupiah yang dikonversi, dikhawatirkan akan berpengaruh pada minat investor menanamkan modalnya di sektor kepelabuhan. Jika transaksi ekspor impor kontainer dipaksakan dalam rupiah, maka investor pelabuhan harus melakukan lindung nilai (hedging). Bagi eksportir dan importir hal ini akan membuat beban CHC bertambah.

 ?Apalagi mayoritas investor mengharapkan Internal Rate of Return (pengembalian investasi) di atas 16 persen,? kata Lino.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan belum bisa terima alasan Pelindo II masih menggunakan dolar. Jonan telah mengirimkan surat kepada Pelindo II agar seluruh transaksi di pelabuhan menggunakan rupaiah. Dia mengaku tidak bisa memberikan sanksi tegas kepada perusahaan tersebut, karena dia merasa bukan sebagai penegak hukum.

"Kalau saya penegak hukum, saya akan tangkap (Pelindo II),? ujar Jonan.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait