12 Smelter Mulai Beroperasi Tahun Ini

Jika sampai 2017 pemegang IUP tidak juga membikin smelter maka izinnya akan dicabut dan wilayah kerjanya dikembalikan negara
Safrezi Fitra
28 Januari 2015, 15:14
Katadata
KATADATA

KATADATA ? Pemerintah menyebut tahun ini akan ada sekitar 12 fasilitas pengolahan dan pemurnian konsentrat mineral (smelter) yang mulai beroperasi tahun ini. Setiap smelter tersebut rata-rata memiliki kapasitas produksi sekitar puluhan ribu ton per tahun.

"Tahun ini 12 smelter selesai. Sekarang sudah 80 persen kemajuannya," kata  Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar di Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (28/1).

Dari 12 smelter tersebut, mayoritasnya merupakan perusahaan komoditas nikel, yang akan mengolahnya menjadi feronikel. Salah satunya smelter feronikel yang sedang dibangun oleh PT Aneka Tambang (Persero) Tbk., senilai US$573 juta di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Dia mengatakan sampai saat ini baru ada 25 perusahaan komoditas nikel yang sudah berkomitmen membangun smelter. Padahal ada 600 perusahaan komoditas nikel yang sudah mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP).

Advertisement

Untuk itu pemerintah akan mengevaluasi pemberian izin usaha pertambangan tersebut. Jika sampai 2017 pemegang IUP tidak juga membikin smelter, maka izin tersebut akan dicabut dan wilayah kerjanya dikembalikan negara.

"Selama ini memang saya ingin menyampaikan kalau punya batas 2017, angka itu batas melakukan pemurnian untuk IUP. Artinya setelah itu dikembalikan ke negara, dan akan kami buka lelang," ujar dia.

Sukhyar mengakui bahwa tidak semua perusahaan tambang mampu membangun smelter, dengan alasan biaya dan tingkat keekonomiannya. Makanya pemerintah mendorong setiap perusahaan untuk bekerja sama membuat usaha patungan dalam pembangunan smelter tersebut.

Dengan usaha patungan, investasi yang dikeluarkan perusahaan menjadi tidak terlalu besar. Smelter tersebut juga bisa lebih ekonomis karena pasokan bahan bakunya dikukung oleh banyak perusahaan, sehingga lebih efektif dan efisien.
 

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait