Bangun Pembangkit 10 Ribu Megawatt, PLN Dapat Pinjaman Asing

World Bank ADB JAICA AFD dan KfW memberikan pinjaman Rp 50 triliun
Safrezi Fitra
13 Januari 2015, 18:48
PLN KATADATA | Arief Kamaludin
PLN KATADATA | Arief Kamaludin
Pinjaman ini sangat penting untuk proyek pembangkit 35.000 megawatt

KATADATA ? Perusahaan Listrik Negara (PLN) mendapatkan pinjaman sebesar Rp 50 triliun untuk membangun pembangkit listrik 10 ribu megawatt. Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir mengatakan pinjaman tersebut berasal dari pinjaman lima lembaga internasional. 

"Kelimanya diantaranya dari World Bank, ADB, JAICA, AFD (Agence Francaise de Developpement) dan KfW (Kreditanstalt fur Wiederaufbau),? kata dia di Pusdiklat EBTKE di Jakarta, Selasa (13/1).

Menurut Sofyan, komitmen ini menandakan bahwa PLN masih dipercaya oleh lembaga keuangan untuk mendapatkan pinjaman. Kepercayaan tersebut sangat penting mengingat PLN membutuhkan dana yang sangat besar untuk merealisasikan program pembangunan pembangkit tenaga listrik sebesar 35.000 megawatt selama lima tahun. 

Untuk lima tahun kedepan, Sofyan menyebut dana investasi yang dibutuhkan sekitar  Rp 110 triliun sampai Rp 120 triliun. Selain pinjaman dari lembaga keuangan asing itu PLN kata dia akan mendapatkan suntikan modal dari pemerintah.

Advertisement

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said membenarkan adanya Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk PLN. Namun, dia tidak bisa memberikan detail besaran PMN tersebut. Dia hanya menyebut PMN tersebut bagian dari Rp 48 triliun yang akan diberikan pemerintah untuk BUMN.

"Saya tidak ingat angkanya," ujar Sudirman.

Akhir tahun lalu, PLN sempat memperoleh pinjaman senilai Rp 8,5 triliun dari sindikasi empat bank dalam negeri, yakni BNI, BRI, BCA, dan BII. Pinjaman tersebut memiliki jangka waktu 10 tahun, dan dapat dipakai kapan saja karena bersifat multiyears. 

Porsi masing-masing bank dalam pinjaman sindikasi tersebut antara lain, BNI senilai Rp 2,5 triliun, BRI Rp 2 triliun, BCA Rp 1 triliun, dan BII Rp 1 triliun. Dana tersebut ditambah pinjaman bilateral dengan BRI Rp 2 triliun. 

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait