Kinerja Industri Manufaktur Melambat

Banyak investor yang lebih wait and see dan tidak terlalu begitu gencar melakukan investasi karena kita memasuki tahun politik
Safrezi Fitra
22 Desember 2014, 18:40
Katadata
KATADATA
Kementerian Perindustrian memproyeksikan pertumbuhan industri tahun depan 6,1 persen

KATADATA ? Kinerja industri pengolahan non migas tercatat melambat sepanjang sembilan bulan tahun ini. Hingga September 2014 industri pengolahan non migas tercatat sebesar 5,3 persen. Angka ini lebih rendah dari capaian periode yang sama pada tahun sebesar 6,33 persen.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan perlambatan ini disebabkan oleh proses politik yang berlangsung hampir sepanjang tahun ini. Kondisi itu membuat para investor menahan investasinya di Indonesia.

"Banyak investor yang lebih wait and see dan tidak terlalu begitu gencar melakukan investasi karena kita memasuki tahun politik," tutur Saleh di Jakarta, Senin (22/12).

Akibat iklim politik yang tidak stabil, investasi sektor manufaktur pun terhambat. Sepanjang tiga kuartal tahun ini, investasi asing (penanaman modal asing/PMA) di sektor manufaktur hanya US$ 10,15 miliar, turun 18,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Advertisement

Investasi dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) memang masih tumbuh 9,28 persen, menjadi Rp 41,84 triliun. Namun karena porsi investasi asing lebih besar, secara keseluruhan nilai investasinya turun.

Meski melambat, pertumbuhan industri manufaktur masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 5,1 persen. Industri manufaktur juga berkontribusi paling besar terhadap perekonomian, dibandingkan sektor lain. Industri ini mampu menyumbang hingga 20,65 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Ini ditunjang oleh ekspor produk industri manufaktur yang masih mengalami peningkatan.

Ekspor produk industri pada periode ini juga mencapai US$ 87,85 miliar, atau meningkat sebesar 5,45 persen dibandingkan capaian periode yang sama pada 2013. Angka tersebut memberikan kontribusi terhadap kinerja ekspor nasional sebesar 66,2 persen.

Capaian tersebut mendorong penurunan defisit  neraca ekspor-impor produk industri hingga 67,7 persen. Hingga September 2014 defisit neraca ekspor-impor produk industri mencapai US$ 5,22 miliar, turun jauh dari capaian periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 16,13 miliar.

Sebenarnya tahun ini kementerian perindustrian menargetkan pertumbuhan industri sebesar 6,4 persen hingga 6,8 persen. Namun melihat perkembangan yang terjadi, kementerian akhirnya merevisi targetnya menjadi hanya 5,7 persen.

Tahun depan, kementerian memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 6,1 persen. Menurut Husin, proyeksi ini masih lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan sebesar 5,3 persen ? 5,7 persen. Proyeksi ini didasarkan pada tren peningkatan investasi dalam beberapa tahun terahir.

Reporter: Petrus Lelyemin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait