Hingga Mei, Penerimaan dari Hulu Migas Capai 76,2% Target APBN

Penerimaan negara dari sektor hulu migas cukup besar, karena harga minyak yang naik.
Image title
16 Juni 2021, 15:04
migas, penerimaan migas, penerimaan negara dari sektor migas, lifting minyak, harga minyak, penerimaan sektor migas, penerimaan negara
Katadata | Dok.
Ilustrasi produksi migas.

SKK Migas mencatat realisasi penerimaan negara dari sektor hulu migas hingga 31 Mei telah mencapai US$ 5,5 miliar atau setara Rp 78,2 triliun. Capaian tersebut 76,2% dari target penerimaan yang ditetapkan dalam APBN 2021 sebesar US$ 7,28 Miliar.

Sekretaris SKK Migas, Taslim Yunus mengatakan guna menjaga penerimaan negara tetap maksimal, SKK Migas meminta agar Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) segera meningkatkan investasi. Kemudian memanfaatkan harga minyak yang naik seperti saat ini.

Selain itu, SKK Migas juga mengharapkan insentif hulu migas segera diberikan. Sehingga momentum yang baik untuk meningkatkan investasi di sektor hulu migas ini dapat dimaksimalkan.

“Kami bersyukur karena harga minyak saat ini semakin meningkat, saat ini sekitar US$ 73 per barel, dan Indonesia Crude Price (ICP) sekitar US$ 68 per barel," ujar dia dalam keterangan tertulis, Rabu (16/6).

Dia pun mendorong KKKS untuk meningkatkan kegiatan investasinya, antara lain dengan segera merealisasikan proyek-proyek yang sebelumnya ditinggalkan karena memiliki keekonomian pada harga US$ 50 atau US$ 60 per barel.

Dia berharap peningkatan kegiatan minimal akan tercermin dalam pembahasan-pembahasan rencana kerja dan anggaran atau Work, Program, and Budget (WP&B). Pembahasan ini akan segera dilakukan SKK Migas dengan KKKS pada Juli hingga September.

Agar momentum ini menghasilkan peningkatan investasi yang maksimal, SKK Migas berharap permohonan insentif hulu migas juga disetujui pemerintah. Permohonan ini tetap dibutuhkan sekalipun harga minyak sedang tinggi.

Per Mei 2021, realisasi lifting minyak sebesar 662.6 ribu bopd atau 94% dari target APBN. Sedangkan lifting gas sebesar 5.379 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 95,4% dari target APBN. Butuh tambahan investasi yang cukup besar untuk mendorong lifting migas minimal sama dengan tahun 2021.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada 2020 telah menurunkan realisasi investasi di sektor hulu migas global sekitar 30%. Tantangan investasi hulu migas semakin meningkat karena adanya kampanye dunia mengalihkan investasi ke sektor energi terbarukan.

Tantangan serupa juga terjadi di Indonesia. Per Mei 2021, capaian realisasi investasi mencapai US$ 3,93 miliar atau sekitar 31,7% dari target. “Dengan membaiknya harga minyak, kami berharap situasi membaik karena dari sisi potensi, Indonesia masih menjanjikan,” kata Taslim.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait