Kemenko Marves Pastikan Pembahasan Investasi Tesla Masih Berlanjut

Namun, Kemenko Marves belum bisa mengungkapkan sejauh mana proses pembahasannya, Indonesia terikat dengan non-disclosure agreement (NDA) alias perjanjian larangan pengungkapan informasi.
Image title
16 Juni 2021, 18:26
tesla, tesla batal bangun pabrik baterai, tesla batal investasi, investasi, pabrik baterai, mobil listrik, investasi, kemenko marves, nikel
ANTARA FOTO/REUTERS/Aly Song
Pengisi daya ulang super Tesla terlihat di sebuah tempat parkir di Suzhou, provinsi Jiangsu, China, Minggu (4/8/2019). Foto diambil tanggal 4 Agustus 2019.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menepis isu batalnya rencana investasi Tesla pada proyek baterai di Indonesia. Deputi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto memastikan diskusi dengan Tesla masih berlanjut.

Namun, Seto enggan membeberkan sejauh mana proses diskusi yang saat ini masih terus berjalan. Alasannya, Indonesia terikat dengan non-disclosure agreement (NDA) alias perjanjian larangan pengungkapan informasi.

"Masih diskusi. Masih confidential ya. Ada non disclosure agreement," kata Seto kepada Katadata.co.id, Rabu (16/6).

Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Darma dalam diskusi secara virtual mengatakan dunia mulai fokus terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG). Investor global pun menganut prinsip ESG dalam berinvestasi, salah satunya yakni Tesla.

Advertisement

Menurutnya, kegagalan investasi Tesla kemungkinan dikarenakan perusahaan Amerika Serikat tersebut menilai Indonesia tak ramah ESG. "Karena ESG ini lah mereka harus berpindah," kata dia.

Selain itu, pendiri dan bos Tesla, Elon Musk, sebelumnya menyatakan kekhawatirannya pada komoditas nikel. Barang tambang ini menjadi bahan baku utama untuk memproduksi baterai. Namun, ketersediaannya tak sesuai dengan keinginan produsen mobil listrik tersebut.

Apabila kondisi tak berubah, Musk bakal mengganti nikel dengan katoda berbahan dasar besi. “Nikel adalah kekhawatiran utama kami untuk meningkatkan produksi baterai lithium-ion. Karena itu, kami mengubah (baterai) ke katoda besi. Banyak besi (dan lithium)!” cuitnya dalam akun Twitter @elonmusk, beberapa waktu lalu.

Namun, Seto menilai rencana Tesla untuk mengganti bahan baku baterai dari nikel ke besi tidak menjadi ancaman bagi Indonesia. Menurutnya kehadiran keduanya akan saling melengkapi produk baterai.

Baterai dengan katoda alias kutub positif lithium, besi, dan fosfat (LFP) biasanya digunakan untuk bus transportasi publik karena harganya lebih terjangkau. Kelemahan produk ini adalah nilai konduktivitasnya rendah. Kapasitas energinya menjadi lebih kecil daripada baterai berkatoda nikel.

Karena itu, Seto tidak melihat rencana produsen mobil listrik asal Amerika Serikat tersebut sebagai ancaman. “Menurut kami, tidak perlu khawatir dengan perkembangan LFP. Justru ini dibutuhkan sebagai complement (melengkapi) nikel,” ujarnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait