Kemenkes Masih Kaji Masukan Pakar Soal Obat Covid-19

Lima organisasi profesi kesehatan mengusulkan Kemenkes menarik dua jenis obat virus corona yakni Oseltamivir dan Azithromycin.
Safrezi Fitra
17 Juli 2021, 12:27
Lima organisasi profesi kesehatan mengusulkan Kemenkes menarik dua jenis obat virus corona yakni Oseltamivir dan Azithromycin.
Katadata
Oseltamivir, salah satu obat yang direkomendasikan BPOM untuk pengobatan pasien Covid-19

Kementerian Kesehatan menyatakan masih melakukan kajian terhadap obat-obatan yang akan digunakan untuk pengobatan Covid-19 bagi pasien isolasi mandiri (isoman). Kajian ini terkait rekomendasi beberapa organisasi kesehatan agar pemerintah menarik beberapa jenis obat tersebut.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Termizi mengatakan ada beberapa tahapan transisi, sebelum pemerintah memutuskan menarik obat-obatan tersebut. Kementerian Kesehatan perlu melakukan kajian dan menerima masukan dari ahli-ahli lain.

"Ini sifatnya rekomendasi dan kami akan bahas secara luas, tentunya dari bidang ahli lain seperti Komnas Obat," kata Nadia kepada Katadata.co.id, Sabtu (17/7).

Sebelumnya, Lima organisasi profesi kesehatan memberikan masukan atas protokol pengobatan Covid-19 kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Mereka merekomendasikan Kemenkes menarik dua jenis obat virus corona yakni Oseltamivir dan Azithromycin dari daftar rekomendasi pengobatan Covid-19 bagi pasien isolasi mandiri (isoman).

Advertisement

Kelima organisasi profesi itu yakni Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Selanjutnya, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Guru besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Zullies Ikawati, menjelaskan alasan kedua obat tersebut tak mendapat rekomendasi. Zullies menyebut penggunaan Oseltamivir sejak awal memang tidak diperuntukan untuk menangani Covid-19, melainkan hanya untuk influenza.

"Gejala Covid-19 agak mirip dengan flu dan waktu itu juga belum ada obat-obatan anti virus maka itu (Oseltamivir) dipakai sebagai salah satu terapinya," kata Zullies kepada Katadata.co.id, Jumat, (15/7).

Rekomendasi para ahli kesehatan, sudah memperjelas ketidakefektifan Oseltamivir dan Azithromycin untuk menangani Covid-19. Karena itu, dia menyarankan pasien yang menjalani isolasi mandiri untuk lebih mengutamakan pola hidup sehat ketimbang berburu antiviral. 

Seiring berkembangannya penelitian, banyak bukti klinis yang menyebutkan Oseltamivir tidak efektif bagi pasein Covid-19. Salah satunya, obat ini hanya bekerja untuk menghambat keberadaan enzim neuraminidase yang ada pada virus influenza. Enzim ini tidak terdapat di dalam virus corona.

Penggunaan obat ini juga dibatasi hanya untuk pasien influenza yang menunjukkan gejala berat. Masalahnya, banyak orang yang masih kesulitan membedakan antara influenza berat dengan jenis flu biasa bergejala ringan. "Pengidap flu gejala ringan bisa sembuh dengan sendirinya tanpa konsumsi antiviral," kata dia.

Pada 13 Juli lalu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) merilis daftar delapan jenis obat antiviral yang mendapat izin penggunaan darurat untuk perawatan Covid-19. Delapan obat tersebut yaitu Remdesivir, Favipiravir, Oseltamivir, Immunoglobulin, Ivermectin, Tocilizumab, Azithromycin, dan Dexamethasone.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait