Indeks Dolar AS Menguat Seiring Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Amerika

Dolar AS sempat turun pada Jumat pekan lalu ke level terendah dalam satu bulan terakhir.
Safrezi Fitra
11 September 2021, 09:24
Ilustrasi mata uang dolar AS
Pixabay/Gerd Altmann
Ilustrasi mata uang dolar

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah mata uang utama negara-negara dunia menguat pada akhir perdagangan, Jumat 10/9 (Sabtu pagi WIB). Penguatan ini sejalan dengan naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Pemerintah AS menaikkan imbal hasil obligasi saat investor menanti peluang bank sentral AS Federal Reserve mulai mengurangi pembelian asetnya atau tapering

Dolar sempat turun pada Jumat pekan lalu ke level terendah dalam satu bulan terakhir. Dolar AS melemah setelah data pekerjaan Agustus menunjukkan pertumbuhan yang melambat, sementara inflasi upah naik lebih besar dari yang diharapkan.

Naiknya dolar di akhir pekan ini dinilai belum menunjukkan tren penguatan ke depan. Investor masih menunggu petunjuk baru tentang kapan Fed kemungkinan akan mulai mengurangi pembelian obligasinya dan menaikkan suku bunga.

Advertisement

"Bagi saya, hal yang paling penting adalah kapan Fed menaikkan suku bunga, dan sayangnya kita mungkin tidak mengetahuinya untuk sementara waktu," kata Erik Nelson, ahli strategi makro di Wells Fargo di New York.

Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan dia masih ingin bank sentral mulai mengurangi pembelian aset tahun ini. Pejabat Fed bergulat dengan meningkatnya tekanan harga-harga dan inflasi. Sementara pertumbuhan pekerjaan masih di bawah target.

Sementara data mencatat harga-harga produsen AS meningkat kuat pada Agustus. Ini menunjukkan bahwa inflasi yang tinggi kemungkinan akan bertahan untuk sementara waktu, dengan rantai pasokan tetap ketat akibat pandemi Covid-19 berlarut-larut.

Mengutip The Wall Street Journal, Jumat (10/9), para pejabat Fed akan berusaha untuk membuat kesepakatan pada pertemuan bank sentral AS tersebut bulan ini.  Kesepakatan ini untuk mulai mengurangi pembelian obligasi pada November.

Indeks dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, menguat 0,05% menjadi 92,57. Indeks naik dari level terendah dalam sebulan di level 91,94 pada Jumat lalu.

Merosotnya mata uang AS pekan lalu terjadi di tengah membaiknya sentimen risiko. Terutama pembicaraan Presiden AS Joe Biden dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan.

Dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih mengatakan Biden dan Xi melakukan pembicaraan yang luas dan strategis. Percakapan itu berfokus pada masalah ekonomi, perubahan iklim, dan Covid-19, kata seorang pejabat senior AS kepada wartawan.

Dolar terakhir turun 0,13% menjadi 6,4419 yuan, mendekati level terendah lebih dari dua bulan di level 6,4233 yuan pada pekan lalu.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait