Bertemu Pendiri Microsoft, Sri Mulyani Bahas Tiga Isu Teknologi

"Saya bersama Strive Masiyiwa dari Zimbabwe, dipilih menjadi co-chairs inisiatif global ini selama dua tahun ke depan," kata Sri
Desy Setyowati
22 September 2017, 11:40
Sri Mulyani
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A.
Menteri Keuangan Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menghadiri acara United Nations General Assembly di New York, Amerika Serikat. Di sela agenda tersebut, dia bertemu dengan istri pendiri Microsoft, Melinda Gates, salah satunya membahas inisiatif Pathways for Prosperity

Pathways for Prosperity merupakan kemitraan global untuk mengembangkan ide-ide baru mengenai masa depan pembangunan yang inklusif di era teknologi. Menurut Sri, Melinda dan suaminya, Bill Gates, merupakan filantrofis yang cukup peduli melihat peran dan pengaruh teknologi dalam upaya akselerasi pembangunan.

"Saya bersama Strive Masiyiwa dari Zimbabwe, dipilih menjadi co-chairs inisiatif global ini selama dua tahun ke depan," kata Sri melalui akun Instagramnya semalam (21/9).

Setidaknya ada tiga isu utama dalam pelaksanaan Pathways for Prosperity ini. Pertama, Understanding Change, yaitu mengenai cara untuk memahami konteks perubahan dalam hubungan antara pertumbuhan yang inklusif dan perkembangan teknologi. Bagi negara-negara yang muncul belakangan (late comer) dalam pembangunan ekonomi, isu ini menjadi penting.

Advertisement

Kedua, Policy Response tentang bagaimana penentu kebijakan dan semua pemangku kepentingan bersinergi dalam menyumbangkan ide, mengembangkan debat publik, dan membawa hasil penelitian terkini untuk membantu pemecahan masalah perubahan. KetigaSociety Readiness, yaitu bagaimana menyiapkan masyarakat negara-negara berkembang untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

(Baca: Google Akuisisi Pengembang Ponsel HTC Senilai Rp 14 Triliun)

Sebagai seorang ekonom, dia berharap inisiatif yang dibahas ini bukan hanya fokus untuk menghasilkan laporan saja tetapi juga harus dapat membawa ide-ide baru, menyuburkan debat publik. Kemudian mendorong riset dan aplikasi untuk membantu negara berkembang dalam menghadapi era perkembangan teknologi, dengan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Dalam konteks kebijakan ekonomi, diperlukan kejelasan dalam memformulasikan kebijakan yang tepat. Misalnya, keterkaitan antara kebijakan di bidang perpajakan atau keterkaitannya di bidang belanja negara seperti mendorong pembangunan inklusif dalam hal cash transfer kepada rakyat miskin. Kemudian bagaimana mendorong penciptaan tenaga kerja, dan lain sebagainya.

"Jadi perlu kolaborasi tingkat nasional dan internasional yang baik. Intinya bagaimana menciptakan nilai tambah yang nyata sebagai hasil dari kemitraan ini," ujar Sri Mulyani.

Maka dari itu, pembahasan akan berlanjut  di akhir tahun ini untuk membicarakan detil tentang pola dan struktur kemitraan yang fokus pada hasil. Harapannya, kemitraan ini bisa membawa kontribusi nyata bagi negara berkembang sehingga dapat meningkatkan taraf hidup banyak manusia menjadi lebih baik.

    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait