Kementerian ESDM Targetkan Revisi Aturan PLTS Atap Rampung Bulan Ini

Dalam revisi ini, nilai transaksi ekspor impor listrik dari PLTS atap ke PLN akan dinaikkan menjadi 100%, dari sebelumnya 65%.
Image title
17 Juni 2021, 19:03
plts atap, pembangkit tenaga surya, pembangkit atap, energi baru terbarukan, energi hijau, energi bersih, listrik, pembangkit listrik, pln, pln beli listrik dari plts atap, harga listrik plts atap
ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
Petugas melakukan perawatan panel surya di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (31/7/2019). Berdasarkan rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) dengan potensi tiga gigawatt untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menargetkan pengembangan lebih dari 1.000 megawatt yang terdiri dari inisiasi swasta dan PLN sendiri.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan revisi aturan mengenai pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Atap akan segera rampung. Setidaknya, kurang dari sebulan aturan tersebut dapat difinalisasi.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan pembahasan draf revisi PLTS Atap di kementeriannya dengan melibatkan beberapa stakeholders telah selesai. Saat ini tahapannya adalah proses persiapan untuk harmonisasi antar kementerian dan lembaga yang akan dikoordinasikan oleh Kemenkumham.

"Perkiraannya dalam dua-tiga minggu ke depan sudah bisa finalisasi," kata dia kepada Katadata.co.id, Kamis (17/6).

Kementerian ESDM juga telah berdiskusi dengan PT PLN selaku penyedia listrik tunggal di dalam negeri. Mengingat dalam revisi ini, nilai transaksi ekspor impor listrik dari PLTS atap ke PLN akan dinaikkan menjadi 100% dari sebelumnya 65%. PLN sudah sepakat, dengan catatan tetap memperhatikan kestabilan jaringan.

Sebelumnya, Dadan mengatakan revisi ini dilakukan demi meningkatkan minat masyarakat untuk berinvestasi pada PLTS atap. Hasil listriknya bisa dijual ke PLN.

Menurut dia, kebijakan tersebut dapat berpengaruh besar pada pemanfaatan PLTS Atap di dalam negeri. Pasalnya, perhitungan ekspor energi dari PLTS atap sebesar 65% kurang menarik bagi konsumen.

"Ini memberikan insentif tambahan untuk memberikan ketertarikan masyarakat untuk memasang PLTS. Jadi 100% yang diproduksi konsumen, 100% juga bisa dititipkan PLN, dan 100% bisa diambil konsumen," ujarnya.

Adapun kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS atap hingga Maret 2021 mencapai 26,51 megawatt peak (MWp). Jumlah yang memasang mencapai 3.472 pelanggan. Dari angka itu, sebanyak 141 pelanggan berada di Bali.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait