Tinggal Sepekan, Penerapan Jalan Tol Elektronik Sudah 91%

"Jadi, pada 31 Oktober 2017 mendatang, kami optimis target 100 persen dapat tercapai," ujar Wahyudi
Miftah Ardhian
27 Oktober 2017, 16:30
jalan tol jakarta
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Sejumlah kendaraan antre membayar tol di gerbang Tol Cibubur, Jagorawi, Jakarta, Jumat (5/5). Pemerintah berencana menerapkan pembayaran nontunai pada seluruh gerbang tol di Indonesia terhitung mulai 31 Oktober 2017.

Penerapan kebijakan wajib transaksi nontunai di seluruh jalan tol tinggal sepekan lagi. Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menbatat hingga 24 Oktober 2017, sudah 91 persen jalan tol yang ada di Indonesia yang telah menerapkan sistem pembayaran elekronik (e-toll).

Kepala Bidang Operasi dan  Pemeliharaan BPJT Wahyudi Mandala Putra mengatakan persiapan program elektronifikasi jalan tol ini terus mengalami perkembangan yang signifikan. Dengan pencapaian yang ada saat ini, dia yakin program ini dapat dijalankan dengan maksimal, sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan pemerintah.

"Jadi, pada 31 Oktober 2017 mendatang, kami optimis target 100 persen dapat tercapai," ujar Wahyudi saat diskusi Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Jumat (27/10). (Baca: Pengguna Jalan Tol Masih Bisa Bayar Tunai Bulan Depan)

Dia merinci perkembangan persiapan penerapan transaksi nontunai di beberapa ruas jalan tol. Untuk di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sudah sebesar 94 persen menerapkan transaksi nontunai. Di Pulau Jawa nonJabodetabek sebesar 86 persen dan di luar Pulau Jawa sebesar 73 persen. Adapun ruas tol yang sudah sepenuhnya non tunai sebesar 72 persen. 

Untuk melayani transkasi non tunai ini, perbankan akan menyiapkan 1,5 juta kartu uang elektronik tambahan. Jumlah tersebut akan didistribusikan oleh Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA. Sementara, BPJT sendiri akan menyiapkan 1,5 juta kartu lainnya. Sehingga, akan ada 3 juta kartu tambahan yang akan disebar untuk mendukung keberhasilan program tersebut. 

Penerapan elektronifikasi sistem pembayaran jalan tol sebanyak 100 persen pada akhir Oktober 2017 ini dilaksanakan sesuai dengan amanat Presiden Jokowi. Payung hukumnya diterbitkan dalam bentuk Peraturan Menteri PUPR Nomor 16/PRT/M/2017 yang diundangkan pada 12 September 2017 tentang Transaksi Ton Non Tunai di Jalan Tol. 

(Baca: Jelang 1 November, Baru Empat Jalan Tol Layani 100% Transaksi Nontunai)

Direktur Pengembangan Sistem Pembayaran Ritel dan Keuangan Inklusif Bank Indonesia Pungky P. Wibowo mengatakan sampai saat ini, perkembangan jalan tol yang ada di Indonesia yang telah menerapkan sistem pembayaran elektronik sesuai target. Secara khusus, terdapat beberapa ruas yang telah menerapkan 100 persen gerbang tol otomatis seperti di Denpasar, Bali dan Bogor Ring Road.

Pungky menjelaskan tujuan elektronifikasi jalan tol ini membuat pembayaran di jalan tol lebih cepat, praktis, dan nyaman. Sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan kelancaran di jalan tol. Elektronifikasi jalan tol ini juga akan menekan biaya cash handling dan peredaran uang palsu. 

"Selain itu, bisa mengurangi rente ekonomi dan penyedia jasa sistem pembayaran ke publik tidak melakukan monopoli. Karena semua berujung pada perbaikan pelayanan dan perlindungan konsumen," ujar Pungky.

(Baca: Inovasi Teknologi Ancam Bonus Demografi dan Lapangan Kerja)

Direktur SDM dan Umum PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Kushartanto Koeswiranto kembali menegaskan seiring dengan penerapan 100 persen sistem pembayaran elektronik di jalan tol ini, pihaknya menyiapkan solusi kepada pekerja yang terdampak kebijakan ini. Adapun, Jasa Marga menyiapkan program yang dinamakan A-Life atau alih profesi.

Program A-Life bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada karyawan dalam mengembangkan dan menambah pengalaman baru sesuai dengan kemampuan dan minat karyawan. Terdapat dua pilihan alih profesi yang ditawarkan, Pertama, alih profesi ke unit kerja atau anak perusahaan. Kedua, alih profesi menjadi wirausaha.

Dirinya pun mengakui, dengan perkembangan teknologi saat ini pekerjaan yang tadinya labour intensive pun menjadi digital intensive. "Oleh karenanya kami membentuk Jasa Marga Learning Institute untuk meningkatkan kompetensi  dan edukasi untuk menghadapi perkembangan teknologi ini," ujar Kushartanto.

Video Pilihan

Artikel Terkait