Berkat Restrukturisasi Kredit, Bank Permata Cetak Laba di Kuartal III

"Strategi kami untuk meningkatkan kualitas aset dan penguatan manajemen risiko akan memposisikan pertumbuhan Bank ke depan," ujar Ridha
Miftah Ardhian
Oleh Miftah Ardhian
27 Oktober 2017, 11:52
Bank permata
Katadata | Arief Kamaludin

PT Bank Permata Tbk telah berhasil mencapai kinerja yang positif sepanjang periode kuartal III-2017. Tercatat, bank tersebut telah membukukan laba bersih sebesar Rp 708 miliar, dari rugi Rp 1,23 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pencapaian ini diklaim sebagai keberhasilan perseroan meningkatkan kualitas aset melalui restrukturisasi dan kedisiplinan dalam pengelolaan biaya.

Direktur Utama Bank Permata Ridha DM Wirakusumah mengatakan selama tiga kuartal berturut-turut, pihaknya telah berhasil menorehkan kinerja yang cukup positif. Perbankan Grup Astra ini akan terus menjaga profitabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan, dengan modal yang kuat dan neraca keuangan yang lebih sehat.

"Strategi kami untuk meningkatkan kualitas aset dan penguatan manajemen risiko akan memposisikan pertumbuhan Bank ke depan," ujar Ridha dalam keterangan resminya, Kamis (26/10).

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2017, pendapatan operasional Bank Permata sebenarnya mengalami penurunan cukup tipis. Dari Rp 6,28 triliun pada kuartal III tahun lalu, menjadi Rp 6,19 pada kuartal III tahun ini. Meski begitu, perseroan berhasil membalikkan keadaan dari rugi menjadi laba pada tahun ini. 

Laba bersih yang berhasil dicatatkan Bank Permata utamanya disokong oleh beban operasional yang menurun. Tercatat, beban operasional Bank Permata pada kuartal III-2017 sebesar Rp 5,28 triliun, turun 33 persen dibandingkan kuartal III-2016 yang mencapai Rp 7,92 triliun.

Ridha menjelaskan, Bank Permata tengah melakukan penguatan manajemen risiko yang menyebabkan penyaluran kredit menjadi lebih rendah dibandingkan kuartal III-2016. Tepatnya turun sebesar 17 persen secara tahunan (year on year/yoy). Namun, penyaluran kredit di unit usaha Syariah berhasil tumbuh sebesar 16 persen.

Meski secara total tidak terjadi pertumbuhan kredit dibanding tahun lalu, Bank Permata telah mulai menunjukkan perbaikan yang positif pada kredit dan dana pihak ketiga di bulan terakhir di kuartal ketiga 2017. Pertumbuhan kredit dikontribusi oleh KPM, KPR, SME dan kredit korporat (wholesale banking).

(Baca: Terbelit Efek Kredit Macet, Pendapatan Bunga Bank Permata Turun 22%)

Bank Permta juga berhasil menjaga likuiditasnya. Tercermin dari rasio kredit terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83 persen dari 86 persen pada periode yang sama tahun lalu. Bank juga terus memperbaiki struktur pendanaannya dari sisi rasio CASA yang lebih tinggi yaitu 50 persen dari 43 persen tahun lalu. Ini didorong pertumbuhan giro dan mengurangi deposito berjangka yang mahal. Tumbuhnya CASA akan terus menjadi prioritas untuk menjamin biaya dana yang murah dan berkelanjutan.

Modal Bank yang kuat tercermin dari rasio Common Equity Tier 1 (CET-1) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) masing-masing sebesar 15,6 persen dan 18,8 persen, jauh lebih tinggi dari ketentuan yang berlaku. Hal ini disebabkan kinerja Bank Permata yang semakin membaik tahun ini dan penambahan modal (rights issue) senilai Rp 3 triliun pada Juni 2017.

Untuk terus memperbaiki kualitas asetnya, Bank Permata melakukan strategi penjualan asset, restrukturisasi dan perbaikan aset secara proaktif. Hal ini menyebabkan rasio NPL Gross dan Net mengalami perbaikan masing-masing sebesar 4,7 persen dan 1,8 persen pada akhir September 2017 dibandingkan dengan 4,9 persen dan 2,5 persen pada periode yang sama tahun lalu dan 8,8 persen dan 2,2 persen di Desember 2016.

NPL Coverage Ratio pun lebih tinggi sebesar 175 persen dibandingkan dengan 166 persen di Juni 2017 dan 122 persen di Desember 2016, serta 98 persen di bulan September 2016. Ridha mengatakan hal ini mengindikasikan Bank Permata secara terus menerus memitigasi potensi kerugian kreditnya secara berhati-hati.

Bank Permata juga menyatakan akan terus memperkuat fundamental dan memanfaatkan kekuatan inti bisnisnya. Termasuk memperluas jaringan cabang dan meluncurkan produk inovatif, seperti PermataMobile dengan Touch ID, Permata e-Bond (layanan transaksi obligasi secara online). (Baca: Pertama di Indonesia, Fitur Jual-Beli Obligasi Online Bank Permata)

"Kami yakin PermataBank dapat kembali  ke kinerjanya yang semakin kuat dengan membangun peran kami sebagai agen pengembang  (agent of development) bagi nasabah dan klien," kata Ridha.

Video Pilihan

Artikel Terkait