September Diprediksi Deflasi, BI: Bukan Berarti Daya Beli Melemah

"Secara umum ada tekanan, jadi potensi September deflasi 0,01 persen. Secara tahunan (year on year/yoy) sekitar 3,6 persen," kata Agus
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
29 September 2017, 17:07
Bank Indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA

Berdasarkan survei pemantauan harga oleh Bank Indonesia (BI), pada pekan keempat September terjadi penurunan harga atau deflasi 0,01 persen. BI menilai harga yang stabil bahkan cenderung turun ini, bukan karena daya beli melemah.

Gubernur BI Agus DW. Martowardojo menjelaskan deflasi yang terjadi pada bulan ini akibat ada beberapa harga komoditas yang menurun. Komoditas tersebut diantaranya pangan dan holtikultura seperti daging ayam, telur ayam, bawang putih, dan bawang merah. Sementara yang mengalami inflasi adalah biaya pendidikan dan sewa rumah.

"Secara umum ada tekanan, jadi potensi September deflasi 0,01 persen. Secara tahunan (year on year/yoy) sekitar 3,6 persen," kata dia di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (29/9). Kondisi ini mengalami perbaikan dibanding pekan ketiga September yang mencatatkan inflasi 0,02 persen.

(Baca: Agustus Deflasi, BPS: Ini Prestasi Pemerintah Menjaga Harga)

Sejak Hari Raya Idul Fitri, ada penurunan harga yang cukup besar. Bahkan, inflasi setelah lebaran ini merupakan yang terendah sejak tiga tahun terakhir. Meski begitu, menurut dia ini tidak menunjukan daya beli yang melemah. Melainkan adanya upaya menstabilkan harga dari pemerintah pusat daerah (pemda).

Agus menjelaskan dalam pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan ini, bank sentral melihat cukup banyak perbaikan dari sisi konsumsi, investasi, dan perdagangan (ekspor). “Itu menunjukan kondisi yang lebih baik dan kami melihat secara umum makro ekonomi Indonesia terjaga baik," ujarnya.

Karena kondisi yang membaik inilah BI memutuskan untuk memangkas kembali suku bunga acuan (BI 7Days Repo Rate). Dari sisi inflasi, BI meyakini inflasi akan lebih rendah dari rata-rata proyeksi atau di bawah empat persen. Bahkan pada 2018 dan 2019, BI optimistis laju inflasi akan berada di titik tengah target 3,5 persen plus minus satu persen. Dengan kondisi ini, BI memandang kebijakan moneter yang ada saat ini cukup memadai.

Pemangkasan suku bunga acuan dijalankan dengan pertimbangan ekonomi saat ini yang dinilai sudah cukup memadai untuk melakukan langkah tersebut. “Itu bisa dibaca bahwa kami melihat supaya pasar itu paham bahwa kami sampaikan tingkat bunga policy rate yang kami turunkan 0,25 persen pada September itu, sudah cukup memadai," ujar Agus.

Video Pilihan

Artikel Terkait