Pemerintah Nilai 4 BUMN Layak Terbitkan Obligasi Global Rupiah

Empat perusahaan ini telah memenuhi dua syarat, sakah satunya memiliki rating minimal BB dari lembaga pemeringkat internasional
Miftah Ardhian
Oleh Miftah Ardhian
27 September 2017, 18:14
Gedung Kementerian BUMN
Arief Kamaludin|KATADATA

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menilai sedikitnya terdapat empat perusahaan negara yang layak untuk menerbitkan obligasi global (global bonds) dalam mata uang rupiah (Global IDR Bond). Penilaian ini terlihat dari dua syarat yang telah dipenuhi keempat perusahaan tersebut.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius K. Ro mengatakan ada dua kriteria yang harus dipenuhi BUMN sebelum dinyatakan layak untuk menerbitkan global bonds berdenominasi rupiah. Pertama, telah memiliki rating minimal BB dari lembaga pemeringkat dunia seperti Standart n Poors (SnP) dan Moody's.

Kedua, perusahaan tersebut harus memiliki basis pendapatan (revenue base) dalam mata uang rupiah. "Kurang lebih ada 4 yang kami lihat sudah bisa (memenuhi dua syarat tersebut)," kata Aloysius saat diitemui di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (27/9). (Baca: Jasa Marga Akan Terbitkan Obligasi Rupiah di Luar Negeri Rp 4 T)

Kementerian BUMN menargetkan produk obligasi global berdenominasi rupiah dari 4 BUMN ini bisa diterbitkan tahun ini, atau paling tidak ada beberapa yang akan menerbitkan. Target investor dari produk ini sama seperti Surat Utang Negara (SUN) yang sebagian pembelinya bisa berasal dari investor global.

Aloysius menjelaskan pendanaan dari instrumen seperti ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Kebutuhan pembangunan infrastruktur sendiri sebesar Rp 5.500 triliun untuk lima tahun ke depan atau Rp 1.100 triliun per tahun.

Dari total tersebut, sekitar Rp 900 triliun per tahun kebutuhan investasinya dapat dibiayai oleh perusahaan pembiayaan dalam negeri.  Sisanya sebesar Rp 200 triliun per tahun kebutuhan investasi ini akan dibiayai dari luar negeri. Pembiayaan ini diperlukan karena Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tidak sanggup untuk mendanai seluruh kebutuhannya. 

Mengenai penamaan obligasi global berdenominasi rupiah ini, Aloysius mengatakan akan mencerminkan Indonesia, seperti yang telah dilakukan di negara lainnya. Dia mencontohkan, negara lain kerap menamakan produk ini dengan nama makanan khas dari negara tersebut seperti Tiongkok dengan Dim Sum Bond dan India dengan Masala Bond.

"Indonesia tidak mau kalah bisa Rendang Bond atau Nasi Goreng Bond. Tapi akhirnya, arahannya akan dinamakan Komodo Bond," ujar Aloysius.

Sementara itu, Direktur Wholesale Banking Bank Mandiri Royke Tumilaar mengatakan saat ini merupakan momentum yang tepat bagi korporasi memperluas akses pendanaan ke pasar internasional. Hal ini didukung oleh predikat layak investasi (investment grade) yang diberikan oleh credit rating agency internasional yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara destinasi investasi investor global. 

Sejumlah negara berkembang telah sukses menerbitkan instrumen surat utang global berdenominasi Iokal dan mendapatkan sambutan positif dari investor global. Beberapa diantaranya adalah Filipina dengan Global Peso, Tiongkok dengan Dim Sum Bonds, dan India dengan Masala Bonds.

"Mandiri Group akan mendukung (pembangunan infrastruktur) melalui pendanaan luar negeri, salah satu peluang pendanaan tersebut adalah Global IDR Bonds ini," ujar Royke.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir berharap instrumen obligasi global berdenominasi rupiah ini dapat memberikan akses, sumber, serta diverisifikasi pendanaan bagi perusahaan-perusahaan lokal. Terutama yang bergerak di sektor infrastruktur yang membutuhkan dana besar.

"Sementara, bagi investor. instrumen ini memberikan diversifikasi portofolio yang berkualitas," ujar Silvano.

Video Pilihan

Artikel Terkait