Temui Jokowi, Bos BEI Bahas Penguatan Pasar Modal

"Jadi bagaimana caranya IHSG bisa mencapai 6.000,"
Ameidyo Daud Nasution
7 Juni 2017, 21:10
Dirut BEI Tito Sulistio
Arief Kamaludin|KATADATA
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio ke Istana. Pertemuan ini membahas upaya yang bisa dilakukan antara pemerintah dengan BEI untuk semakin memperkuat pasar modal Indonesia setelah lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s (S&P) menaikkan peringkat utang luar negeri Indonesia menjadi layak investasi (investment grade).

Tito terlihat muncul di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pukul 15.30 Waktu Indonesia Barat (WIB),  usai Rapat Terbatas mengenai Asian Games 2018. Pertemuannya dengan Jokowi berlangsung cukup lama. Hingga sekitar dua jam, Tito baru terlihat keluar dari pintu belakang Istana.

Kepada awak media, Tito mengatakan pertemuannya dengan Jokowi membahas upaya untuk meningkatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), setelah mendapat peringkat layak investasi dari S&P. "Jadi bagaimana caranya IHSG bisa mencapai 6.000," kata Tito usai bertemu Jokowi, Rabu (7/6). Pada perdagangan hari ini, IHSG berada di kisaran 5.717.

(Baca: Efek Peringkat S&P, Pemerintah Optimistis Surat Utang Negara Diburu)

Dalam pertemuan tersebut Jokowi meminta agar Tito lebih sering melaporkan perkembangan pasar modal dan hal-hal apa saja yang bisa mempengaruhinya. Presiden ingin mengetahui apa saja yang harus diperbaiki pemerintah, terutama untuk memperkuat pasar modal di dalam negeri.

Menurut Tito, salah satu cara memperkuat pasar modal Indonesia adalah dengan terus membuat aturan yang kondusif bagi industri pasar modal saat ini. Beberapa yang dicontohkan Tito antara lain tentang kemudahan investasi pasar modal serta memperkuat pialang efek (broker). Kewenangan mengenai regulasi ini berada di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Setelah S&P menaikkan peringkat Indonesia, Jokowi dan Tito sepakat langkah selanjutnya adalah dengan memperkuat perusahaan-perusahaan Indonesia dalam indeks internasional yang dirilis oleh Morgan Stanley (MSCI Index). Selama ini indeks MSCI menjadi acuan para investor dan manajer investasi dunia.

(Baca: Pasca Peringkat S&P, Ekonom Ramal Efek Berantai Banjir Dana Asing)

Dengan meningkatkan bobot saham perusahaan-perusahaan Indonesia, diharapkan akan banyak arus dana asing masuk ke pasar modal dalam negeri. Tito meyakini pasar modal merupakan instrumen tidak langsung untuk investasi. Penguatan pasar modal bisa berdampak pada penguatan investasi langsung di sektor riil. "Dengan instrumen yang ada, (investasi pasar modal) akan segera mengucur ke sektor riil," kata Tito.

Dalam siaran pers S&P, kenaikan peringkat didasarkan pada kemampuan Pemerintah Indonesia mengelola anggarannya, baik penerimaan maupun pengeluaran, secara efektif. Tahun lalu, anggaran negara aman berkat keberhasilan program pengampunan pajak (tax amnesty) dan pemangkasan belanja.

S&P berharap dengan terjaganya anggaran negara tersebut, pemerintah Indonesia bisa mengelola utang dengan lebih baik lagi. Kenaikan peringkat utang luar negeri Indonesia dari S&P menyusul kenaikan peringkat dari dua lembaga rating dunia lainnya. Dalam dua tahun terakhir ini, Moody’s Investors Service dan Fitch Ratings telah mengerek peringkat utang luar negeri Indonesia ke level layak investasi.

 (Baca: BKPM Ramal Kenaikan Rating S&P Baru Berdampak Signifikan 2018)

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait