Bulog Akan Impor Beras 1 Juta Ton Bulan Depan

Cadangan beras Bulog hingga 25 Oktober hanya 700.000 ton, sedangkan konsumsinya mencapai 2,5 juta ton per bulan
Safrezi Fitra
26 Oktober 2015, 19:29
beras
Katadata | Arief Kamaludin

KATADATA - Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logsitik (Bulog) mengatakan akan melakukan impor beras sebanyak 1 juta ton. Impor ini dari Vietnam ini akan mulai dilakukan bulan depan.

Impor ini sudah mendapat persetujuan dari Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan impor beras tersebut akan digunakan untuk meningkatkan cadangan Bulog. (Baca: Jokowi Restui Impor Beras dari Vietnam)

Awalnya Bulog berencana untuk mengimpor beras tahun ini sebesar 1,5 juta ton. Impor ini untuk mengantisipasi adanya fenomena cuaca panas berkepanjangan El-Nino yang menyebabkan kekeringan di sejumlah daerah.

Namun, karena beberapa pertimbangan, pemerintah memutuskan impor hanya 1 juta ton saja. "Awalnya 1.5 juta ton, tapi karena kondisi dan lain sebagainya, kemampuan loading, kemampuan beras dikirim, jadi hanya 1 juta ton," kata Djarot di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (26/10).

Sesuai instruksi Presiden, Bulog diminta menghitung berapa cadangan beras yang tersedia di Bulog jika sampai dengan akhir Oktober tidak turun hujan. Kemudian perhitungan berapa besar konsumsi beras pada masyarakat setiap bulannya.

(Baca: Ada El-Nino, Pemerintah Belum Akan Impor Beras)

Dia mengatakan sampai hari Minggu (25/10), cadangan beras yang ada di Bulog hanya tersisa 700.000 ton. Sementara konsumsi beras per bulan mencapai 2,5 juta ton. Artinya, jika tidak ada sawah yang panen pada bulan ini, akan ada defisit beras bulan depan.

"Kalau bulan ini 100 persen tidak ada panen, kan butuh 2,5 juta ton (November)," ujarnya. Meski demikian, impor beras yang akan dilakukan bulan depan hanya 1 juta ton.

Selain Vietnam, Bulog juga menjajaki impor beras dari Thailand. Namun, belum ada kesepakatan dengan Thailand, karena terkendala masalah harga. "Saya kan harus mencari harga yang tidak mahal, yang wajar," ujar Djarot.

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait