Cina Siap Investasi Infrastruktur Rp 1.360 Triliun

Cina juga bersedia meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri TKDN hingga lebih dari 50 persen dalam investasinya
Safrezi Fitra
11 Agustus 2015, 19:14
Katadata
KATADATA

KATADATA ? Cina menyatakan siap berinvestasi di sektor infrastruktur senilai US$ 100 miliar atau Rp 1.360 triliun. Komitmen investasi ini diantaranya untuk proyek pembangunan jalan, pembangkit listrik, hingga kereta cepat.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago mengatakan komitmen investasi tersebut didapat setelah menerima kunjungan Menteri Pembangunan Nasional dan Komisi Reformasi Cina Xu Shaoshi. Beberapa proyek infrastruktur yang ditawarkan diantaranya proyek  kereta api cepat Jakarta - Bandung senilai US$ 5,5 miliar, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan total daya 1.000 megawatt dan pembangunan jalan. Ada juga perusahaan swasta asal negeri Tirai Bambu tersebut, yang siap berinvestasi US$ 20 miliar untuk membangun pabrik baja di Kalimantan. 

"Jadi mereka sediakan US$ 100 miliar, kami arahkan proyeknya. Kami dari Bappenas sifatnya memberikan informasi tentang daerah-daerah tempat berinvestasi," kata Andrinof di kantornya, Jakarta, Selasa (11/8).

Dengan adanya komitmen ini, Bappenas siap memasukkan ke dalam beberapa proyek pemerintah. baik yang ada di daftar rencana pinjaman/hibah luar negeri (DRPHLN) atau Blue Book 2015-2019, maupun yang ada di daftar proyek kerjasama pemerintah dan swasta atau Public Private Partnership (PPP) Book. (Baca: Bangun Infrastruktur, Pemerintah Utang Rp 506 Triliun)

Advertisement

Selain investasi, kata Andrinof, Cina berkomitmen untuk mendukung program hilirisasi dan industrialisasi nasional. Melalui investasi ini, Cina sepakat akan menyerap produk dan jasa dalam negeri. Tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang digunakan dalam investasinya akan ditingkatkan hingga lebih dari 50 persen.

Mengenai investasi Cina ini, Presiden Joko Widodo sempat mengungkapkan kekecewaannya dengan kualitas pembangkit listrik yang dibangun oleh investor negara tersebut. Kapasitas produksi listrik dari pembangkit yang dibangun kontraktor Cina hanya 30 persen-55 persen. Kapasitas ini jauh lebih rendah dari pembangkit yang dikerjakan kontraktor Jerman, Prancis, atau Amerika Serikat yang mencapai 75 persen-80 persen.

Menteri Pembangunan Nasional dan Komisi Reformasi Cina Xu Shaoshi juga mengakui ada beberapa proyek investasi Cina yang kualitasnya buruk. Namun, dia menjanjikan investasi kali ini berbeda. Cina akan lebih meningkatkan kualitas infrastruktur yang akan dibangun. "Jadi memang harus ada tanggung jawabnya. Secara umum pembicaraan mengenai kualitas investasi ini sudah berjalan dengan baik," kata Xu.

(Baca: Kualitas Pembangkit Listrik Buruk, Cina Siap Tanggung Jawab)

Menurut dia, dalam delapan bulan terakhir, Presiden Jokowi dan Presiden RRT Xi Jinping sudah melakukan tiga kali pertemuan untuk meningkatkan kerjasama khususnya di bidang ekonomi.  Pertemuan ini menghasilkan beberapa rencana kerjasama, salah satunya adalah proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang ditandatangani nota kesepahamannya pada Maret 2015. Saat ini, selain menyerahkan hasil studi terkait kereta cepat, Cina juga menyatakan kesediaannya untuk membangun infrastuktur lainnya.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait