Harga Beras Naik, BI Yakin Bulan Ini Deflasi

Langkah pemerintah menggelontorkan 300000 ton cadangan beras cukup efektif mengendalikan harga beras
Safrezi Fitra
27 Februari 2015, 19:49
inflasi.jpg
KATADATA/ Arief Kamaludin

KATADATA ? Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo optimis akan adanya deflasi pada Februari, meski harga beras naik signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Dia menyebutkan, deflasi bisa mencapai 0,2 persen.

"Bisa sampai 0,2 persen month to month, Dan year on year (yoy) pasti di bawah 6,5 persen," kata dia ketika ditemui di lingkungan gedung BI, Jakarta, Jumat (27/2).

Agus mengatakan langkah pemerintah menggelontorkan 300.000 ton cadangan beras, cukup efektif mengendalikan harga beras, sehingga inflasi tidak naik signifikan. Dia pun mengapresiasi respons cepat pemerintah, yang juga meminta pemerintah daerah untuk ikut terlibat dalam pengendalian harga.

Agus juga meyakini, inflasi sepanjang tahun ini dapat lebih rendah dari target yang ditetapkan Pemerintah sebesar 4 persen. Apalagi, pada Maret hingga April akan ada panen raya, sehingga kelangkaan beras sepertu saat ini seharusnya tidak lagi menjadi hambatan.

Advertisement

Optimisme Agus bahwa inflasi akan rendah tahun ini, salah satunya dipengaruhi kebijakan pemerintah yang menata ulang pola subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pada November lalu. Dampak dari kebijakan ini cukup besar untuk mengantisipasi defisit anggaran negara yang lebih besar. Perluasan ruang ekspansi pemerintah juga diharapkan akan berdampak positif bagi inflasi kedepan.

(Baca: Deflasi 0,24 Persen Setelah Harga BBM Turun Dua Kali)

Dia berharap, pemerintah akan terus menerapkan kebijakan subsidi tetap untuk BBM meskipun harga minyak nasional kembali naik kedepan. Jika reformasi struktural ini terus diterapkan, dia yakin inflasi bisa setara dengan negara lain, serta memperbaiki neraca transaksi berjalan.

Agus juga menyampaikan, defisit transaksi berjalan pada kuartal pertama masih bisa dibawah 2 persen. Namun, pada kuartal berikutnya, diperkirakan akan kembali naik. Walhasil, defisit transaksi neraca berjalan sepanjang tahun ini akan bisa terjaga pada level 3 persen dari produk domestik bruto (PDB)

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait