Aturan IPO Tambang Diperlonggar, Investor Bisa Dirugikan

Safrezi Fitra
26 Februari 2015, 16:05
Tambang Batu Bara
Donang Wahyu | KATADATA
Risiko investasi perusahaan tambang yang baru tahap eksplorasi masih sangat tinggi

KATADATA ? Langkah otoritas bursa memperlonggar aturan pencatatan perdana saham (initial public offering) dinilai bisa merugikan investor. Ini bisa terjadi, mengingat risiko investasi di sektor pertambangan masih sangat tinggi.

(Baca: Perusahaan Tambang Akan Lebih Mudah untuk IPO)

Ketua Mining Institute Irwandy Arif mengatakan perusahaan tambang masih menghadapi risiko geologi dalam operasinya. Saat melakukan eksplorasi, perusahaan tambang hanya bisa memprediksi cadangan tambang dalam suatu wilayah kerja. Namun, ketika beroperasi, bisa hanya cadangan tambang yang didapat lebih sedikit dari prediksinya.

Makanya dia menyebut langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) membiarkan perusahaan tambang yang baru pada tahapan eksplorasi untuk IPO dirasa kurang tepat. Investor yang akan membeli saham IPO perusahaan tambang, belum bisa mengetahui secara pasti cadangan tambang yang dimiliki perusahaan tersebut.

"Syarat (perusahaan) tambang yang masuk BEI seharusnya punya (cadangan) produksi yang banyak. Selama ini yang (IPO) kecil semua, jadi sulit," kata dia dalam seminar 'Peluang dan Tantangan Perusahaan Tambang: Maju dan Berkembang Melalui Pasar Modal' di Jakarta, Kamis (26/2).

Saat ini BEI dan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) masih mengkaji, bagaimana kebijakan yang tepat agar bisa mendorong perusahan tambang mendapat pendanaan dari bursa saham.

Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Poltak Sihotang menambahkan, ada empat risiko yang dihadapi investor yang ingin membeli saham sektor tambang. Keempat risiko tersebut adalah kebijakan pemerintah, pasar, produk yang tidak dapat diperbaharui, dan ketidakpastian penemuan cadangan produksi.

"Tapi, 2015, tahun tepat untuk perusahaan tambang IPO. Karena harga komoditas yang turun. Harga penawaran saham pun masih menarik bagi investor," ujarnya.

Menjawab dampak tingginya risiko terhadap investor, Direktur BEI Hoesen mengatakan pemegang saham akan dibedakan menurut peminatnya saja. Hal ini bisa dibedakan dengan adanya papan utama, papan pengembangan, dan katalis. Selain itu, kebijakan ini juga sebagai langkah untuk memperbanyak perusahaan saham dan investor. Apalagi, jumlah investor masih berkisar 400.000.

"Ada venture market yang tidak diperuntukan untuk publik investor, tapi sophisticated investor. Itu sedang kami bicarakan. Tapi ide untuk eksplorasi itu beda, bukan di papan publik. Karena tidak bisa digeneralkan, karena pengetahuannya berbeda," kata Hoesen.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Isaka Yoga mengatakan harus ada sanksi bagi perusahaan tambang yang tidak menghasilkan, dalam empat tahun setelah mencatatkan sahamnya. Ini dibutuhkan agar investor mendapat jaminan dan merasa tidak dirugikan. 

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait