BI Prediksi Inflasi Desember 2,1 Persen - 2,2 Persen

Inflasi Desember 2014 merupakan yang tertinggi ditahun ini
Safrezi Fitra
30 Desember 2014, 10:51
Inflasi
Donang Wahyu|KATADATA
Inflasi Desember 2014 merupakan yang tertinggi di tahun ini disebabkan kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada pertengahan November lalu.

KATADATA ? Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memperkirakan inflasi Desember 2014 berada pada kisaran 2,1 sampai 2,2 persen. Angka tesebut berdasarkan survei yang dilakukan Bank Indonesia sampai minggu ketiga Desember 2014.

Menurut Agus inflasi Desember 2014 merupakan yang tertinggi di tahun ini. Ini disebabkan kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada pertengahan November lalu.

"Karena dari total 2,1 persen - 2,2 persen, dampak kenaikan BBM sendiri mungkin ada di 0,6 persen. Selebihnya adalah tadi terkait volatilitas harga makanan," kata Agus di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (29/12).

Makanya dia mengingatkan pemerintah agar menjaga inflasi pada dua hari terakhir tahun ini. Jika hal itu tidak dilakukan, maka inflasi secara year on year (YoY) akan menembus 8 persen. Ini lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 7,7 persen-8,1 persen.

Advertisement

"Secara YoY (year on year) Inflasi Desember 2014 diperkirakan 8,1 sampai 8,2 persen.  Kalau tidak dijaga bisa terjadi YoY diatas 8 persen," ujarnya.

Di tempat yang sama Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengatakan kenaikan harga paling tinggi dialami oleh komoditas cabai. Untuk itu dia terus mendorong produktivitas cabai di perkebunan, untuk menjaga inflasi tahun depan.

Menurut Rachmat, stok dan harga ikan masih stabil. Sementara beras, stoknya masih aman walaupun ada kenaikan harga. "Tidak ada impor beras. Kalau kondisi sulit baru impor. Sekarang masih surplus 6 bulan," ujarnya. 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Purwanto mengaku pihaknya akan terus melakukan operasi pasar untuk menjaga harga beras. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari surat Menteri Perdagangan 18 Desember 2014.

"Bulan ini sampai pertengahan januari, satu bulan kira-kira. Ini udah jalan 50.000 ton dan akan terus kami jalankan," ujarnya.

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait