Bank Indonesia Tidak Akan Mengikuti Langkah Rusia Menaikkan Suku Bunga

Bank Sentral Rusia memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya dari 105 persen ke 17 persen
Safrezi Fitra
16 Desember 2014, 20:05
Katadata
KATADATA

KATADATA ? Bank Indonesia mengaku tidak akan meniru langkah Rusia untuk menaikkan suku bunga acuannya dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan langkah tersebut tidak diambil karena Indonesia dan Rusia mengalami permasalahan yang berbeda.

"Kalau ditanya Rusia sudah menaikkan suku bunga, kemudian apakah Bank Indonesia akan ikuti Rusia, kan masalahnya beda-beda," kata Mirza di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa (16/12).

Menurutnya apa yang dialami Rusia saat ini berawal dari masalah politik luar negeri, terkait konflik Ukraina. Konflik ini berujung pada langkah Uni Eropa yang melakukan embargo terhadap Rusia. Embargo tersebut membuat perekonomian Rusia tertekan, sehingga banyak modal asing keluar dari negara tersebut (capital outflow). 

Merosotnya harga minyak mentah dunia makin memperburuk kondisi ekonomi Rusia, mengingat pendapatan terbesar negara tersebut berasal dari penjualan minyak. Untuk mengatasi permasalahan ekonomi tersebut, Bank Sentral Rusia memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya, dari 10,5 persen ke 17 persen. 

Advertisement

Mirza mengatakan kondisi itu sangat berbeda dengan Indonesia, yang masalah ekonominya berada pada defisit neraca transaksi berjalan. Menurut data BI, defisit transaksi berjalan triwulan III 2014 sebesar US$ 6,836 miliar atau 3,07 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Mengantisipasi pelemahan rupiah, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan selama ini terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk stabilisasi rupiah. Selain itu BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Ke depan, BI akan meningkatkan intensitas lelang di pasar rupiah termasuk Sertifikat Bank Indonesia sembilan bulan.

"Dengan langkah ini kondisi rupiah bisa terjaga," ujarnya.

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait