BI Pilih Jaga Volatilitas, Ketimbang Menargetkan Rupiah di Level Aman

BI berharap pengusaha bisa memperpanjang jangka waktu utang luar negerinya
Safrezi Fitra
9 Desember 2014, 15:05
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA ? Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan pihaknya tidak tak menargetkan rupiah pada level tertentu, melainkan akan menjaga volatilitasnya. Karena menguatnya dolar tidak hanya dialami oleh Indonesia

?BI akan selalu ada di pasar. Tapi yang utama, menjaga agar volitalitas tetap terjaga. Kami tidak menargetkan satu nilai tukar tertentu,? kata Agus dalam rapat pimpinan nasional (rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, di Jakarta, Selasa (9/12). (Baca: Rupiah di Posisi Terendah Sejak Krisis 2008)

Agus menjelaskan, indikasi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang membaik membuat dolar AS menguat dibandingkan mata uang negara-negara lainnya. Saat ini, ekonomi dunia memasuki era normal baru yang lebih rendah.

Selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia dibantu oleh stimulus AS yang turun dan suku bunganya yang rendah, sebesar 0,25 persen selama lima tahun. Makanya, ketika AS mengumumkan menarik stimulus pada 2013 lalu, dana asing keluar sebesar US$ 4,1 milliar. (Baca: Spekulasi The Fed Sebabkan Rupiah Terus Melemah)

Advertisement

Selanjutnya, yang harus diwaspadai adalah rencana negeri paman sam untuk menaikan suku bunga hingga 1,2 persen tahun depan, yang akan membuat dolar AS semakin kuat. Makanya dia mengimbau pengusaha yang memiliki valuta asing (valas) untuk melakukan lindung nilai (hedging).

Hedging cukup penting untuk menjaga stabilitas keuangan dalam negeri dan pelemahan rupiah tidak semakin dalam. Melemahnya rupiah akan membuat kepercayaan investor berkurang, karena utang luar negeri (ULN) yang tinggi. Mengingat debt to equity ratio (DER) sudah mencapai 53 persen, padahal idealnya di bawah 30 persen.

?Pemerintah tidak bisa ambil risiko, hilangnya kepercayaan dunia (terhadap ekonomi Indonesia). Untuk itu, saya harap pengusaha menyiapkan dengan baik agar (jangka waktu utangnya) diperpanjang,? ujarnya.

Agus juga menyampaikan, neraca perdagangan yang hanya surplus US$ 23,3 juta dibawah ekspektasi pasar, membuat rupiah melemah. Hal ini perlu diwaspadai, karena sejak awal tahun hingga Oktober tercatat defisit. Pemerintah harus bisa mengupayakan surplus ini bisa dipertahankan, bahkan ditingkatkan lagi.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait