Saham Emiten BUMN Farmasi Lebih Diuntungkan di Masa Pandemi

Dalam enam bulan terakhir, harga saham Indofarma naik 423,9%, Kimia Farma 332,6% dan Phapros 70%.
Safrezi Fitra
14 September 2020, 19:49
saham, farmasi, bumn, kimia farma, indofarma, kalbe farma, emiten farmasi, covid-19, psbb
123rf/lightwise
Ilustrasi industri farmasi

Pandemi Covid-19 memberikan pengaruh positif terhadap kinerja saham perusahaan farmasi. Pergerakan saham-saham emiten farmasi di yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam enam bulan terakhir.

Meski tidak semua emiten mengalami kinerja keuangan yang baik sepanjang semester I-2020, investor justru tertarik dengan prospek ke depannya. Saham-saham farmasi banyak diburu, sehingga harganya naik. Sepanjang enam bulan terakhir ini, harga saham-saham farmasi mengalami peningkatan signifikan. Rentang peningkatan harganya antara 18% - 424%.

Bahkan, PT Soho Global Health Tbk (SOHO), emiten farmasi yang baru tercatat di BEI pekan lalu pun mendulang berkah. Harga saham produsen suplemen kesehatan Imboost ini naik hingga 202% sejak pertama kali sahamnya masuk bursa. Dari harga penawaran Rp 1.820 kini menjadi Rp 5.500 per saham.

Kenaikan harga saham SOHO yang mencapai tiga kali lipat ini terjadi hanya dalam lima hari. Pada hari pertama perdagangan saja, sahamnya langsung naik 24,73%. Selama lima hari ini saham SOHO masih terkena auto reject atas dengan kenaikan hampir 25% setiap hari perdagangan bursa.

Di antara 10 saham farmasi yang naik signifikan dalam enam bulan terakhir, saham emiten yang terafiliasi perusahaan pelat merah mengalami kenaikan tertinggi. Emiten tersebut adalah Kimia Farma, Indofarma, serta Phapros yang merupakan anak usaha Kimia Farma. Saham Indofarma naik 423,9%, Kimia Farma 332,6% dan Phapros 70%.

Pergerakan saham farmasi sepanjang tahun ini bisa dilihat pada databoks di bawah ini.

 

Jika melihat kinerja keuangan Kimia Farma, Indofarma, dan Phapros, pada semester I-2020, sebenarnya tidak terlalu baik. Penjualan Kimia Farma hanya tumbuh 3,8%, bahkan Phapros mengalami penurunan penjualan 17,8%. hanya Indofarma yang menunjukkan peningkatan penjualan yang tinggi, mencapai 23%. Namun, sepanjang enam bulan pertama tahun ini Indofarma mengalami rugi hingga Rp 24,35 miliar.

Analis sektor farmasi PT Henan Putihrai Dwi Astuti mengatakan sebenarnya pemerintah juga merilis regulasi dan kebijakan yang bisa mendorong kinerja industri farmasi. Namun, dengan berbagai kemudahan yang diberikan oleh pemerintah, investor sepertinya melihat perusahaan farmasi negara seperti Kimia Farma dan Indofarma akan lebih diuntungkan.

“Investor perlu berhati-hati, dalam menilai pergerakan saham-saham yang naik signifikan, tapi tidak sejalan dengan kinerja fundamentalnya.

 

 

Terdongkrak Pengembangan Vaksin Covid-19

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan lonjakan harga saham emiten farmasi yang terafiliasi BUMN terkait dengan pengembangan vaksin Covid-19 yang digalakan pemerintah. Pengembangan vaksin ini dilakukan oleh holding BUMN farmasi Biofarma.

Ada dua cara yang dilakukan pemerintah dalam pengembangan vaksin ini, yakni melakukan uji sendiri dan menguji vaksin dari Sinovac, perusahaan asal Tiongkok. Dengan Sinovac progresnya sudah lebih jelas, sudah buat perjanjian. Ada juga vaksin yang dikembangan tim merah-putih dan kerja sama pengembangan dengan Uni Emirat Arab.

Pengembangan dan pemasaran vaksin ini juga melibatkan Kimia Farma dan Indofarma yang merupakan anak usaha Biofarma. “Mereka akan memasarkan vaksin,” kata Edwin kepada Katadata.co.id, Senin (14/9).

Dwi Astuti pun mengatakan investor mungkin menilai kinerja KAEF dan INAF akan meningkat signifikan jika kerja sama pengembangan vaksin Covid-19 yang dilakukan Bio Farma sebagai holding BUMN farmasi dengan Sinovac nantinya memberikan hasil yang positif dan hasilnya dapat didistribusikan oleh KAEF dan INAF.

Sebenarnya tidak hanya BUMN farmasi yang melakukan pengembangan vaksin Covid-19. Perusahaan swasta, Kalbe Farma pun melakukan hal yang sama. Direktur Keuangan Kalbe Farma Bernardus Karmin Winata mengatakan saat ini perusahaannya sedang melakukan pengembangan vaksin fase I bersama perusahaan farmasi asal Korea Selatan Genexine.

 

Pengembangan vaksin ini dilakukan di Korea Selatan hingga November 2020. Tahap uji praklinis sudah dilakukan pada hewan dan menunjukkan kemajuan. Selanjutnya akan dilakukan uji klinis fase kedua akan dilakukan di Indonesia. Vaksin Kalbe akan siap beredar secara komersial paling cepat pertengahan 2021.

Menurutnya, butuh investasi sekitar Rp 500 miliar - Rp 1 triliun untuk memproduksi 50 juta dosis vaksin. Masalahnya Kalbe belum mendapatkan kepastian berapa besar vaksin tersebut akan bisa terserap di Indonesia nantinya. Yang masih menjadi pertanyaan Kalbe adalah seberapa besar keterlibatan swasta dalam penyediaan vaksin Covid-19 untuk pemerintah. "Kami memerlukan kepastian produk (vaksin Kalbe) dapat terserap dengan baik," ujarnya.

Kepastian inilah yang membuat investor lebih memilih memburu saham Kimia Farma dan Indofarma. Makanya kenaikan harga saham Kalbe Farma tidak terlalu signifikan. “Kalau swasta kan belum jelas, karena masih dalam beberapa fase,” kata Edwin.

Edwin memperkirakan harga saham Kimia Farma bisa menembus 3.590 sampai akhir tahun ini dan Indofarma bisa mencapai Rp 3.540. Sementara perkiraan harga saham Kalbe Farma Rp 1.695 per saham.

Dampak PSBB dan Pandemi Covid

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, Kimia Farma menjelaskan kelangsungan usaha perseoan terganggu dengan adanya pandemi Covid-19. "Berdampak pada pembatasan operasional," tulis manajemen Kimia Farma, 15 Agustus lalu. Pembatasan operasional akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini diperkirakan berlangsung 1-3 bulan.

Perseroan mengaku pembatasan kegiatan operasional ini mempengaruhi kinerja keuangan perseroan kurang dari 25%. Namun, hal ini tidak sampai berpengaruh pada pengurangan pekerja yang totalnya saat ini mencapai 13.052 orang. Berdasarkan data laporan keuangan, pendapatan Kimia Farma semester I-2020 naik 3,6% menjadi Rp 4,68 triliun. Laba bersihnya pun naik1,72% menjadi Rp 48,57 miliar. Sementara total kas dan setara kasnya mengalami penurunan hingga 54,6% menjadi Rp 617 miliar.

Kimia Farma juga menjelaskan strategi atau upaya mempertahankan kelangsungan usaha di tengah pandemi Covid-19. Beberapa yang dilakukan adalah menjaga saldo kas dan setara kas minimum untuk keperluan operasional. Kemudian menurunkan jumlah hari piutang, persediaan dan pinjaman berbunga. Perseroan juga mengurangi anggaran belanja modal (capex) dan melakukan efisiensi usaha. Tahun ini Kimia Farma menganggarkan capex Rp 547 miliar untuk pengembangan apotek, klinik, laboratorium klinik, dan fasilitas produksi obat. Hingga Juni, anggaran capex tersebut sudah terpakai 54%.

Sementara Kalbe Farma mengaku kinerjanya tidak terganggu dengan adanya pandemi Covid-19. "Kegiatan operasional Perseroan tidak terganggu, tetapi ada segmen bisnis Perseroan yang mengalami pertumbuhan lebih rendah daripada periode sebelumnya," kata Sekretaris Perusahaan Kalbe Farma Lukito Kurniawan Gozali dalam keterbukaan informasi, Selasa (8/9). Meski begitu, Lukito tidak menjelaskan segmen bisnis tersebut.

 

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Video Pilihan

Artikel Terkait