Melemah Sejak Awal Pekan, Saatnya IHSG Bangkit

Selain dari bursa AS, sentimen positif juga datang dari rebound-nya harga emas yang naik 0,28% dan minyak yang naik 1.51%, serta terus menguatnya harga batu bara mendekati US$ 60 per ton.
Image title
25 September 2020, 09:56
ihsg, saham, bursa, bursa efek indonesia, harga emas, harga minyak, harga batu bara, wall street
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Seorang pekerja melintas di layar elektronik pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Sudirman, Jakarta Pusat (08/08).

Indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak awal pekan keempat September 2020, selalu ditutup di zona merah. Jika diakumulasi, terjadi penurunan 4,27% di level 4.842,75 pada penutupan perdagangan Kamis (24/9). Lalu, bagaimana dengan hari ini, Jumat (25/9)?

Setelah rangkaian pelemahan, sepekan lalu, indeks saham hari ini berbalik. IHSG menguat ke level 4.867,96 pada pembukaan perdagangan hari ini. hingga pukul 9.30 WIB indeks kembali naik 0,62% ke level 4.872,76. 

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang memprediksi hari ini IHSG stabil cenderung menguat terbatas. Itu menyusul rebound-nya indeks Wall Street Amerika Serikat. "IHSG diprediksi dapat menghirup udara segar," kata Edwin dalam riset paginya.

Indeks pasar modal di Amerika Serikat pada perdagangan semalam ditutup di zona hijau. Dow Jones Index menguat 0,2%, S&P 500 Index juga menguat 0,3%, dan Nasdaq ditutup naik 0,37%. Sementara, hingga pukul 08.40 WIB, indeks berjangka Dow Jones menguat 0,49%.

"Sentimen positif juga datang dari rebound-nya harga emas yang naik 0,28% dan minyak yang naik 1.51%. Serta, datang dari terus menguatnya harga batu bara sebesar 0.67% mendekati US$60," ujar Edwin.

Dengan begitu, menurutnya, investor bisa fokus terhadap saham-saham berbasis komoditas seperti PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Harum Energy Tbk (HRUM).

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus juga melihat adanya potensi rebound hari ini, namun berdasarkan analisisnya secara teknikal IHSG cenderung melemah terbatas. Hasil analisisnya mengungkapkan, IHSG mungkin diperdagangkan pada level 4.754 hingg 4.898.

Dari dalam negeri, penurunan IHSG sejak awal September, memberikan kekhawatiran pada pelaku pasar. "Mereka khawatir, ini sejalan dengan pertumbuhan kinerja keuangan emiten pada kuartal III maupun pertumbuhan ekonomi di kuartal III tahun ini," kata Nico dalam risetnya.

Kabar baiknya datang dari mancanegara, dimana Partai Demokrat Amerika Serikat telah menyusun proposal stimulus senilai US$ 2,4 triliun untuk membangkitkan ekonomi negeri Paman Sam itu. Proposal tersebut akan dinegosiasikan dengan White House dan Senat Partai Republik yang targetnya bisa disahkan pekan depan.

Sayangnya, nilai stimulus itu sebenarnya jauh lebih kecil dari paket yang diinginkan oleh Partai Demokrat yaitu US$ 3,4 triliun. "Namun seperti yang kita ketahui, White House dan Partai Republik tidak akan memberikan bantuan lebih dari US$ 2 triliun. Di satu sisi, Partai Demokrat juga tidak ingin mendapatkan bantuan kurang dari US$ 2 triliun," ujar Nico.

Ia memberikan beberapa rekomendasi saham untuk bisa dipantau oleh investor untuk jangka waktu pendek 15 hari ke depan, seperti PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP). Untuk jangka menengah 45 hari ada PT Mayora Indah Tbk (MYOR). Dan jangka panjang 100 hari PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI).

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya memperkirakan IHSG bisa diperdagangkan mixed ke lebih tinggi hari ini. Hal ini sejalan dengan indeks AS ditutup lebih tinggi selama sesi perdagangan yang bergejolak karena investor mempertimbangkan adanya faktor pertemuan pembahasan stimulus fiskal baru di AS.

"Sentimen risiko didukung oleh berita Menteri Keuangan Steven Mnuchin, dan Pemimpin Dewan Demokratik Nancy Pelosi terbuka untuk pembicaraan stimulus fiskal baru," kata Hariyanto.

 

Video Pilihan

Artikel Terkait