Tren Kenaikan Bursa Saham sejak Omnibus Law UU Cipta Kerja Disahkan

Jika ditotal, indeks harga saham gabungan dalam sepekan ini naik hingga 2,57% ke level 5.053,66 pada penutupan perdagangan Jumat (9/10).
Image title
9 Oktober 2020, 18:16
ihsg, saham, bursa, bursa efek indonesia, omnibus law, cipta kerja, cipta lapangan kerja, uu omnibus law, uu cilaka, uu ciptaker, pasar modal, investor asing
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan kedua Oktober 2020, selalu ditutup di zona hijau di setiap hari perdagangannya. Secara total, indeks Tanah Air dalam sepekan ini naik hingga 2,57% di level 5.053,66 pada penutupan perdagangan Jumat (9/10).

Berbagai sentimen mewarnai pasar saham pada pekan ini. Penguatan terjadi setelah disahkannya Undang-Undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada Senin (5/10). Ini menjadi angin segar bagi indeks saham.

Analis Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial menilai undang-undang baru tersebut bisa berdampak sangat positif bagi investasi jangka panjang di Indonesia. Terutama sektor manufaktur yang memanfaatkan adanya relokasi pabrik dari Tiongkok ke negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Menurutnya, UU Cipta Kerja bisa membawa efek positif bagi semua sektor usaha di dalam negeri karena meningkatnya investasi dan bisa mendorong laju konsumsi rumah tangga domestik. "UU Cipta Kerja menyangkut kemudahan berinvestasi bagi pemodal asing dan mengurangi ketergantungan foreign inflows dari pasar modal," kata Janson.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus juga menilai pelaku industri dalam negeri memang menaruh perhatian cukup besar pada UU Cipta Kerja. Dengan adanya UU ini, diharapkan menjadi batu loncatan bagi perubahan iklim usaha, khususnya untuk pemulihan ekonomi usai pandemi Covid-19 berakhir nanti.

Menurutnya, UU ini bisa berefek baik bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Investasi pada sektor riil menjadi target utama dari UU tersebut. Namun, dalam menyaring industri apa saja yang mendapat kemudahan untuk berinvestasi di Indonesia, itu juga cukup penting.

"Melihat saat ini penyerapan tenaga kerja cukup diperlukan guna meredam naiknya lonjakan jumlah pengangguran," kata Nico.

Menurut Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan sentimen positif dari omnibus law akan surut ketika indeks sudah jenuh. "Tapi perlu diperhatikan untuk volume saat ini sudah masuk tren penurunan dalam dua hari terakhir. Ini artinya kekuatan indeks untuk naik lagi sudah mulai melemah," ujarnya.

Sementara, sentimen dari mancanegara juga membayangi indeks dalam negeri. Akhir pekan lalu, pasar global sempat anjlok akibat sentimen Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang diberitakan positif terkena Covid-19. Namun, sentimen itu berbalik menguatkan bursa global pada pekan ini karena kondisinya yang semakin membaik dan bisa meninggalkan rumah sakit pada Senin (5/10).

Sentimen negatif global sempat melanda lantaran Trump 'ogah' menyalurkan stimulus untuk masyarakat terdampak Covid-19 dan maskapai penerbangan hingga pemilu di negara Paman Sam tersebut selesai pada November 2020. Hal itu disampaikan Trump melalui Twitternya pada Selasa (6/10) waktu setempat.

"Saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk berhenti bernegosiasi hingga setelah pemilu. Segera setelah saya menang, kami akan mengesahkan RUU Stimulus yang berfokus pada pekerja AS dan bisnis kecil," tulis Trump dalam akun Twitter sehari setelah keluar dari rawat inap di RS untuk perawatan Covid-19.

Hal itu sempat membuat IHSG pada perdagangan Rabu (7/10) bergerak di zona merah. Saat itu, indeks dibuka turun hingga 0,74% dan tidak mampu bangkit sepanjang hari. Namun, menjelang perdagangan ditutup, IHSG rebound dan berhasil menguat tipis 0,1% pada hari itu.

Sepekan ini, sorotan juga terjadi pada aksi investor asing di pasar soal yang mencatatkan jual dengan nilai bersih mencapai Rp 8,09 triliun di seluruh pasar. Paling besar, asing melakukan penjualan di pasar non-reguler senilai Rp 6,96 triliun, sedangkan di pasar reguler senilai Rp 1,13 triliun.

Pelepasan saham oleh asing paling besar terjadi pada saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dengan nilai jual bersih mencapai Rp 5,58 triliun. Saham Vale Indonesia pada sepekan ini tercatat mengalami kenaikan hingga 2,22% menyentuh harga Rp 3.690 per saham.

Pelepasan dengan nilai jumbo pada saham Vale Indonesia ini terkait dengan rampungnya transaksi pembelian 20% saham Vale Indonesia oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum. Inalum membeli saham Vale Indonesia senilai Rp 5,52 triliun pada Rabu (7/10), dari investor asing yaitu Vale Canada Limited (VLC) dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. (SMM).

Sepekan ini, total ada 376 saham yang ditutup di zona merah, sejalan dengan kenaikan IHSG. Sementara sepekan ini hanya ada 166 saham yang ditutup melemah dan 169 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Berdasarkan data RTI Infokom, saham yang naik paling signifikan pada perdagangan sepekan ini adalah PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) yang meroket hingga 125% dalam sepekan menjadi Rp 252 per saham. Lalu saham PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) yang sepekan naik 113,33% menjadi Rp 128 per saham.

Di dalam jajaran lima besar saham yang meroket sepekan ini, ada PT Bank permata Tbk (BNLI). Sahamnya naik 74,78% menyentuh harga Rp 1.975 per saham. Naiknya saham Bank Permata sejalan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memberikan persetujuan prinsip untuk rencana integrasi antara PT Bank Permata Tbk (BNLI) dengan Bangkok Bank Kantor Cabang Indonesia.

Integrasi ini bisa membuat Bank Permata naik kelas menjadi bank umum kegiatan (BUKU) IV yang total modal intinya lebih dari Rp 30 triliun dan rasio modal lebih dari 30%. Saat ini bank yang sudah ada di kelas BUKU IV seperti Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), atau Bank CIMB Niaga.

Video Pilihan

Artikel Terkait