Saat Pandemi, Penjualan Unilever Naik Ditopang Segmen Rumah Tangga

Total beban pemasaran dan penjualan naik 7,97% menjadi Rp 6,58 triliun. Beban ini membuat laba bersih Unilever turun 1,29% menjadi Rp 5,43 triliun.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
23 Oktober 2020, 08:56
unilever, penjualan unilever, laba unilever, pendapatan unilever, emiten, barang konsumsi, kecap bango, emiten barang konsumsi, unilever indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA
Unilever

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) membukukan penjualan bersih Rp 32,45 triliun hingga kuartal III 2020, meningkat tipis 0,3% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 32,36 triliun. Segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh, masih mendominasi.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang diunggah melalui keterbukaan informasi, penjualan dari kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh senilai Rp 22,79 triliun. Nilai tersebut tumbuh 2,02% dibandingkan dengan penjualan segmen sama Rp 22,34 triliun.

Sementara, penjualan dari segmen lainnya yaitu makanan dan minuman, tercatat senilai Rp 9,66 triliun hingga September 2020. Sayangnya, penjualan pada segmen ini mengalami penurunan 3,54% dibandingkan dengan penjualan pada periode sama tahun lalu senilai Rp 10,01 triliun.

Peningkatan penjualan Unilever dibarengi dengan penurunan harga pokok penjualan sebenarnya membuat laba kotor perusahaan naik. Tercatat harga pokok penjualan Unilever senilai Rp 15,58 triliun pada triwulan III 2020, turun hingga 2,12% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 15,92 triliun.

Hal tersebut mampu membuat laba bruto Unilever mengalami peningkatan 2,63% secara yoy. Hingga triwulan III 2020, laba bruto perusahaan mencapai Rp 16,87 triliun, sedangkan triwulan III 2019 hanya senilai Rp 16,43 triliun.

Meski begitu, laba bersih Unilever hingga September 2020 malah tercatat turun 1,29% dibandingkan September 2019. Tercatat laba bersih Unilever senilai Rp 5,43 triliun, sedangkan pada periode sama tahun lalu laba bersihnya mencapai Rp 5,5 triliun.

Penurunan laba bersih tersebut dipengaruhi total beban pemasaran dan penjualan yang tercatat Rp 6,58 triliun pada September 2020. Beban pada pos ini ternyata melonjak hingga 7,97% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu senilai Rp 6,1 triliun.

Ada tiga besar beban yang masuk dalam beban pemasaran dan penjualan, yaitu iklan dan riset pasar; distribusi; dan promosi. Beban iklan dan riset pasar tercatat senilai Rp 1,84 triliun pada September 2020, turun 2,22% secara yoy dari Rp 1,89 triliun.

Beban lainnya adalah distribusi yang senilai Rp 1,54 triliun pada triwulan III 2020, naik hingga 7,35% secara yoy dari Rp 1,44 triliun. Lalu, beban promosi pada September 2020 senilai Rp 1,49 triliun atau meroket hingga 12,03% dibandingkan periode sama tahun lalu yang senilai Rp 1,33 triliun.

Selain itu, Unilever juga harus menanggung beban umum dan administrasi yang totalnya senilai Rp 3,17 triliun pada sembilan bulan tahun ini. Beban pada pos ini mengalami peningkatan hingga 13,02%. Tingginya beban ini membuat laba usaha turun 5,73% menjadi Rp 7,09 triliun.

Per September 2020, Unilever tercatat memiliki aset Rp 21,07 triliun. Terdiri dari aset lancar yang jumlahnya Rp 9,29 triliun dan aset tidak lancar senilai Rp 11,78 triliun. Total liabilitasnya Rp 14,59 triliun, terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp 12,21 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp 2,38 triliun.

Unilever - KATADATA
Unilever - KATADATA (KATADATA)

 

Dalam laporan keuangan tersebut, Unilever menjelaskan pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 telah meningkatkan ketidakpastian atas lingkungan tempat perusahaan beroperasi. Hal tersebut juga mempengaruhi posisi keuangan dan hasil operasi Unilever.

Manajemen Unilever mengaku terus memantau dampak perkembangan kejadian luar biasa tersebut terhadap aktivitas usaha. Selain itu, manajemen juga sudah mengambil langkah-langkah antisipasi yang dapat meminimalisasikan dampak dari kejadian pandemi Covid-19.

Manajemen mengaku fokus akan tiga hal dalam menghadapi pandemi Covid-19, pertama melindungi kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan karyawan. Kedua, memastikan keberlangsungan bisnis dan pemenuhan kebutuhan produk untuk membantu konsumen menghadapi keseharian di masa yang penuh tantangan ini.

"Serta yang terakhir, berkontribusi membantu masyarakat luas dalam berbagai upaya mengatasi pandemi Covid-19," seperti dikutip dari laporan keuangan Unilever tersebut.

Harga Saham Unilever Turun 3,57%

Saham Unilever tercatat sejak awal tahun 2020 hingga penutupan perdagangan 30 September 2020 tercatat mengalami koreksi 3,57% menjadi di harga Rp 8.100 per saham. Koreksi tersebut, tidak lebih parah dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang turun 22,69% pada periode yang sama.

Harga saham Unilever paling tinggi ditutup pada harga Rp 8.575 per saham pada penutupan perdagangan 3 Januari 2020 dan 15 Mei 2020. Sementara terendah di harga Rp 5.650 per saham pada 19 Maret 2020.

Perusahaan berkode emiten UNVR menjadi emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar ketiga di Bursa Efek Indonesia (BEI). Di saat pandemi covid-19, perusahaan barang konsumsi ini berhasil menyalip dua perusahaan BUMN PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan aksi stock split yang dilakukan Unilever menjadi salah satu yang mempengaruhi saham dan market cap perseroan. “Karena saya lihat nilai transaksi rata-rata harian selepas stock split meningkat menjadi 103.9 miliar,” ujarnya.

Rata-rata nilai transaksi harian saham Unilever pada 2019 berada di kisaran Rp 95 miliar per hari. Sedangkan tahun sebelumnya rata-rata Rp 105.5 miliar per hari dan Rp 83 miliar per hari pada 2017.

Akhir tahun lalu Unilever melakukan pemecahan nilai sahamnya (stock split) dengan rasio 1:5. Dengan resminya stock split ini, sejak 2 Januari 2020, nilai nominal sahamnya menjadi Rp 2 per saham dari sebelumnya Rp 10 per saham.

Video Pilihan

Artikel Terkait