Bursa Saham Bidik E-Commerce jadi Emiten Baru Tahun Depan

Bursa Efek Indonesia menargetkan jumlah perusahaan yang menerbitkan efek tahun depan lebih rendah dari tahun ini.
Image title
27 Oktober 2020, 19:09
bursa, saham, bursa efek indonesia, pasar modal, ipo, obligasi, surat utang, waran, penerbitan saham, penerbitan obligasi, target bursa, target ipo, emiten, jumlah emiten
ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Bursa Efek Indonesia

Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan penambahan jumlah efek baru sebanyak 30 pencatatan pada tahun depan. Target ini tertuang dalam rencana kerja dan anggaran tahunan BEI 2021. Efek baru tersebut, terdiri dari pencatatan efek saham melalui initial public offering (IPO), obligasi korporasi baru, dan pencatatan efek lainnya.

Target tersebut masih di bawah realisasi pencatatan perusahaan baru tahun ini. Meski baru 10 bulan, sejak awal tahun hingga saat ini jumlah efek baru sudah melampaui angka tersebut. Jika dilihat dari capaian hingga 22 Oktober 2020, sudah ada 46 perusahaan yang melantai di Bursa melalui IPO, belum termasuk obligasi atau efek lainnya.

Bahkan, di pipeline Bursa masih ada 17 perusahaan yang berniat IPO di sisa akhir tahun ini. Selain itu, masih terdapat sembilan penerbit yang akan meluncurkan 10 emisi obligasi atau sukuk di sisa akhir tahun ini yang tercatat di pipeline Bursa.

Meski secara jumlah lebih sedikit dari tahun ini, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Gede Nyoman Yetna Setya mengatakan bukan hanya soal jumlah yang menjadi fokus Bursa. Ia mengatakan, Bursa juga fokus sisi variasi perusahaan tercatat, sehingga perusahaan teknologi dan e-commerce juga bisa mencari pendanaan di Bursa.

"Tidak hanya (perusahaan) konvensional, kami juga melihat terkait dengan e-commerce dan perusahaan teknologi," katanya dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (27/10).

Nyoman mengatakan bursa akan terus menjalankan strategi sosialisasi untuk menarik minat calon perusahaan yang mencari pendanaan di pasar modal. Di tengah pandemi, BEI menggunakan langkah kombinasi dalam penyelenggaraan kegiatan sosialisasi, baik one-on-one meeting, serta workshop secara online maupun offline.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan penyusunan RKAT 2021 masih mempertimbangkan perkembangan penanganan Covid-19 sampai tahun depan di Indonesia.

Selain menargetkan pencatatan efek baru, BEI juga memasang target pada rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) tahun depan mencapai Rp 8,5 triliun dengan total jumlah hari bursa sebanyak 241 hari. Target ini lebih tinggi dibandingkan RNTH yang sejak awal 2019 hingga perdagangan 25 Oktober 2020 yang hanya Rp 7,92 triliun.

Inarno mengatakan rencana pengembangan bursa dilakukan melalui serangkaian koordinasi dan masukan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), pemerintah, anggota bursa, SRO, dan asosiasi. "Tentunya, semua upaya ini kami lakukan untuk terus membangun BEI menjadi penyelenggara perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efisien," kata Inarno.

Terkait bisnis, BEI menargetkan mampu meraup pendapatan Rp 1,12 triliun tahun depan, atau meningkat 17,36% dibandingkan target tahun ini Rp 957,54 miliar. Proyeksi atas biaya usaha BEI tahun depan sebesar Rp 960,91 miliar, sehingga laba sebelum pajak menjadi Rp 162,87 miliar.

"Setelah dikurangi estimasi beban pajak untuk 2021 sebesar Rp 43,15 miliar, maka perkiraan perolehan laba bersih BEI pada 2021 adalah sebesar Rp 119,72 miliar," kata Inarno menambahkan.

Total aset BEI pada 2021 diproyeksikan akan mencapai Rp 3,16 triliun atau naik 7,07% dari RKAT 2020 yang berjumlah Rp 2,95 triliun. Adapun saldo akhir kas dan setara kas, termasuk investasi jangka pendek, pada 2021 diproyeksikan mencapai Rp 1,63 triliun.

Video Pilihan

Artikel Terkait