IHSG Dibuka Naik 1%, Transaksi Saham BUMN Paling Besar

Saham perusahaan pemerintah yang sejauh ini diperdagangkan dengan nilai paling besar adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dengan nilai transaksinya mencapai Rp 131,4 miliar.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
16 November 2020, 11:07
saham, bumn, ihsg, saham bumn, bri, bni, bank mandiri, telkom, indeks saham, pasar modal, investor asing
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.
Karyawan mengamati layar yang menampilkan informasi pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka naik hingga sempat menguat 1,07% di level 5.519,67 hingga pukul 09.10 WIB, Senin (16/11). Perdagangan baru beberapa menit, tapi nilai total transaksi di pasar saham sudah mencapai Rp 1,31 triliun. Saham BUMN paling ramai ditransaksikan.

Saham perusahaan pemerintah yang sejauh ini diperdagangkan dengan nilai paling besar adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dengan nilai transaksinya mencapai Rp 131,4 miliar. Hal itu berasal dari perdagangan sebanyak 22,6 juta unit saham dengan frekuensi sebanyak 4.813 kali.

Saham BUMN lainnya yang ditransaksikan dengan nilai jumbo adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan nilai transaksi Rp 120,1 miliar. Saham ini diperdagangkan sebanyak 2.080 kali dengan volume perdagangan 18,8 juta unit saham pada perdagangan awal di Bursa.

Berikutnya saham BUMN yang sangat aktif diperdagangkan pagi ini masih berasal dari sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang nilai total transaksi sejauh ini mencapai Rp 119,8 miliar. Total volume yang diperdagangkan sebanyak 29,7 juta unit saham dengan frekuensi 3.892 kali.

Masih dari perusahaan pelat merah, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) juga menjadi saham yang pada perdagangan awal ini sudah ditransaksikan dengan nilai jumbo yaitu Rp 81,7 miliar. Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 26,6 juta unit saham dengan frekuensi 3.805 kali.

Saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang merupakan bagian dari holding BUMN konstruksi ini tercatat juga diperdagangkan dengan nilai Rp 69,3 miliar. Nilai ini berasal dari perdagangan sebanyak 69,9 juta unit saham dengan frekuensi 4.535 kali.

Saham-saham perusahaan BUMN yang ditransaksikan dengan nilai jumbo ini pun kompak bergerak di zona hijau. Seperti BBNI yang bergerak naik hingga 2,65% menjadi Rp 5.800 per saham, padahal perdagangan baru dibuka 10 menit. Lalu, saham BMRI naik 1,6% menjadi Rp 6.350 per saham dan BBRI naik 0,5% menjadi Rp 4.020 per saham.

Penguatan juga terjadi pada saham TLKM yang hingga berita ini ditulis menguat hingga 3,01% menjadi Rp 3.080 per saham. Saham WSKT bahkan bergerak naik hingga 6,38% menjadi di harga Rp 1.000 per saham.

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang IHSG berpotensi menguat awal pekan ini. Penguatan ini meneruskan tren pada pekan lalu. Dia memperkirakan IHSG hari ini berpotensi bergerak di rentang level antara 5.423 hingga 5.510.

"Di awal pekan ini, IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan penguatannya didorong sentimen penguatan Dow Jones," kata Edwin dalam risetnya pagi ini, Senin (16/11).

Indeks di Wall Street kompak ditutup menguat. Dow Jones ditutup naik hingga 1,38%. S&P 500 yang tercatat ikut menguat hingga 1,36%. Nasdaq pun bergerak menguat hingga 1,02%.

Sentimen positif juga datang dari penguatan harga beberapa komoditas di antaranya emas yang harganya naik 0,80%, minyak sawit (CPO) naik 1,05%, nikel naik 0,24%, dan timah yang menguat 0,68%. "Sehingga berpotensi mendorong naik saham di bawah komoditas tersebut." kata Edwin.

Meski begitu, analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan mengatakan IHSG hari ini sebenarnya berpotensi melemah. Menurut analisisnya secara teknikal, level support indeks berada di rentang 5.436-5.412. Sementara rentang resistance ada di level 5.490 hingga 5.475.

"Pergerakan akan cenderung terbatas. Investor akan mencermati data neraca perdagangan Indonesia per Oktober 2020," kata Dennies dalam risetnya.

Infografik_BUMN motor penggerak bursa saham_rev
Infografik_BUMN motor penggerak bursa saham_rev (Katadata)

 

Begitupun dengan Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee yang menilai sepanjang pekan ini IHSG berpeluang konsolidasi melemah karena beberapa sentimen negatif yang membayangi keputusan investor. Berdasarkan analisisnya, area support IHSG ada di level 5.395 sampai 5.246 dan resistance di level 5.520 sampai 5.550.

Salah satu yang mungkin mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan ketiga November 2020 adalah mulai memudarnya sentimen positif pada pekan lalu. Padahal, pekan lalu IHSG secara total mampu ditutup naik 2,35% di level 5.461,05.

"Memudarnya optimisme vaksin Covid-19 dan mulai turunnya efek kemenangan Joe Biden, membuat kami perkirakan IHSG berpeluang konsolidasi melemah di pekan ini," dalam riset tertulisnya, dikutip Senin (16/11).

Selain itu, sentimen negatif yang membayangi IHSG pekan ini karena adanya lonjakan kasus Covid-19 di berbagai negara membuat pelaku pasar berhati-hati. Berdasarkan catatan Reuters, kasus Covid-19 telah naik lebih dari 100% di 13 negara bagian Amerika dalam dua pekan terakhir.

Terkait kenaikan kasus tersebut beberapa negara mulai melakukan pembatasan aktivitas lagi. "Pembatasan kegiatan sosial dapat menurunkan pemulihan ekonomi sehingga berpotensi mendorong stimulus fiskal dan moneter lebih besar," kata Hans.

Video Pilihan

Artikel Terkait