15 Perusahaan Belum Penuhi Aturan Batas Minimum Saham Publik

Bursa Efek Indonesia mencatat 98% dari total 709 emiten yang memenuhi ketentuan minimum jumlah saham publik yang beredar hingga September 2020.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
16 November 2020, 18:40
bursa, saham, bursa saham, bursa efek indonesia, saham free float, saham beredar, pasar modal, investor, emiten
ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
Bursa Efek Indonesia (BEI)

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan masih ada 15 emiten yang belum memenuhi aturan minimum kepemilikan pemegang saham publik (free float). Aturan tersebut tertera dalam Peraturan Bursa Nomor I-A tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham yang diterbitkan oleh perusahaan tercatat.

Dalam aturan tersebut, jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham bukan pengendali dan bukan pemegang saham utama, paling sedikit 50 juta saham dan 7,5% dari jumlah saham dalam modal disetor. Jumlah pemegang sahamnya paling sedikit 300 nasabah pemilik rekening.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan dari 709 perusahaan tercatat di Bursa, ada 694 perusahaan yang memenuhi ketentuan minimum kepemilikan pemegang saham bukan pengendali dan bukan pemegang saham utama, serta ketentuan minimum jumlah pemegang saham. Sehingga total yang memenuhi syarat mencapai 98% per 30 September 2020.

"Hanya terdapat 2% atau 15 perusahaan tercatat yang belum memenuhi ketentuan tersebut," kata Nyoman kepada awak media, Senin (16/11).

Dia memastikan Bursa terus melakukan berbagai upaya komunikasi dan memberikan pembinaan kepada perusahaan tercatat agar senantiasa memenuhi ketentuan pasar modal yang berlaku, termasuk free float. Beberapa upaya seperti memberikan sosialisasi mengenai aksi korporasi yang dapat dilaksanakan dalam rangka pemenuhan ketentuan tersebut.

"Atas hasil diskusi dan pembinaan, perusahaan tercatat yang belum memenuhi ketentuan tersebut, sedang mematangkan rencana pemenuhan yang tepat untuk kondisi masing-masing," kata Nyoman.

Catatan lainnya, berdasarkan data per 30 September, rata-rata pemegang saham bukan pengendali dan bukan pemegang saham utama dari seluruh emiten adalah sebesar 39%. Dari total pemegang saham non-pengendali, kepemilikan saham domestik sebesar 63%, sementara kepemilikan investor asing adalah sebesar 37%.

Secara total, saat ini investor domestik memiliki porsi 52% dari seluruh saham yang tercatat di Bursa. Sementara sisanya, porsi pemegang saham asing sebesar 48% dari seluruh saham tercatat.

Adapun, sejak awal tahun hingga perdagangan Senin (16/11), investor asing masuk ke pasar saham dalam negeri senilai Rp 554,6 triliun. Sayangnya, asing melakukan penjualan dengan nilai lebih tinggi, Rp 602,5 triliun. Sehingga, asing tercatat jual bersih mencapai Rp 47,81 triliun di seluruh pasar.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total transaksi di pasar saham Indonesia didominasi investor retail. Ini salah satu yang menyelamatkan pasar saham yang sempat anjlok terimbas pandemi Covid-19.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan 73% transaksi di pasar saham saat ini dilakukan oleh investor retail. "(Kepemilikan retail) ini adalah transaksi paling banyak dalam lima tahun terakhir," ujar Wimboh dalam acara Capital Market Summit and Expo 2020, Senin (19/10).

Berdasarkan data OJK, rata-rata frekuensi perdagangan harian tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Per Agustus 2020, rata-rata frekuensi perdagangan saham mencapai 571 ribu kali, sedangkan sepanjang tahun lalu rata-ratanya hanya 478 ribu kali.

Wimboh mengatakan semakin banyak investor retail maka fluktuasi di bursa saham dapat dikendalikan lebih baik. Ini sudah bisa terlihat dalam situasi pandemi saat ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sempat anjlok bisa kembali naik.

Video Pilihan

Artikel Terkait