IHSG Kembali Dibuka Menguat, Sektor Tambang Menjadi Penopang

Indeks saham sektor pertambangan naik 1,48%. Beberapa saham yang tercatat menguat dari sektor ini seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang naik hingga 6,3% dan PT Vale Indonesia (INCO) 3,93%.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
18 November 2020, 10:40
saham, ihsg, saham pertambangan, mining, antam, vale, inco, ihsg hari ini, update ihsg, saham pertambangan dongkrak ihsg, pasar modal, indeks saham hari ini
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Pengunjung mengamati pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (28/10/2019). Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan dibuka menguat 4,45 poin atau 0,07 persen ke posisi 6.256,79.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali menguat pada pembukaan perdagangan Rabu (18/11). Setidaknya hingga pukul 09.10 WIB, indeks saham domestik bergerak menguat 0,41% di level 5.552,39.

Penguatan ini didorong oleh indeks saham sektor pertambangan yang naik 1,48%. Beberapa saham yang tercatat menguat dari sektor ini seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang naik hingga 6,3% menjadi Rp 1.265 per saham. Belum lagi PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang naik 3,93% di harga Rp 4.760 per saham.

Berdasarkan data RTI Infokom, pada awal sesi pertama perdagangan hari ini, total volume saham yang diperdagangkan sebanyak 1,62 miliar unit saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,4 triliun. Total ada 166 saham yang menguat, lalu 111 saham di zona merah, dan 159 saham yang tidak mengalami perubahan harga.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan menilai pergerakan indeks hari ini memang masih memiliki peluang menguat. Menurut analisisnya, rentang level resistance ada di antara 5.582 hingga 5.555. Sedangkan area support ada di rentang antara 5.508 hingga 5.488.

Penguatan indeks hari ini memang masih dalam tren penguatan yang cukup kuat berdasarkan analisis teknikal. Sementara, secara fundamental, penguatan ini masih dibayangi oleh sentimen positif global terkait pengembangan vaksin Covid-19.

Sejak pekan lalu indeks terpengaruh sentimen dari perusahaan farmasi asal Amerika Serikat Pfizer Inc yang menemukan vaksin, dimana 90% efektif menangkal virus. Terbaru, perusahaan farmasi Moderna Inc menyatakan 94,5% efektif dalam mencegah virus corona.

"Namun, investor masih perlu mencermati angka kasus Covid-19 di Indonesia yang kembali naik pesat," kata Dennies dalam risetnya.

Berdasarkan data terbaru, Selasa (17/11), jumlah orang yang terinfeksi virus corona di Indonesia terus meningkat. Kementerian Kesehatan mencatat angka Covid-19 bertambah 3.807 sehingga totalnya mencapai 474.455.

Menurut Dennies, investor pasar saham bisa melakukan pemantauan kepada beberapa saham yang direkomendasikannya untuk hari ini. Di antaranya PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), dan PT Timah Tbk (TINS).

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus juga melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak bervariatif dengan potensi menguat terbatas. Berdasarkan analisa teknikal, indeks bisa diperdagangkan pada level 5.458 hingga 5.564.

Namun, ia mengingatkan pelaku pasar untuk tetap hati-hati, karena ruang untuk penguatan mulai sangat terbatas. "Koreksi mungkin menjadi sebuah pilihan untuk menopang penguatan lebih lanjut atau dibutuhkan sentimen yang memberikan alasan bagi IHSG untuk berada di atas," kata Nico.

Beberapa rekomendasi saham dari Nico yang bisa dipantau oleh investor pasar saham hari ini di antaranya PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), maupun PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Meski begitu, menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, IHSG hari ini rawan terkoreksi mengikuti pergerakan bursa global, terutama bursa Wall Street di Amerika Serikat. Dow Jones ditutup turun 0,56%, S&P 500 turun 0,48%, dan Nasdaq turun 0,21%.

"Saham-saham di Amerika Serikat tertekan setelah adanya aksi profit taking setelah dua hari perdagangan sebelumnya terus menguat dan telah mendekati level tertingginya," kata tim riset Samuel Sekuritas berdasarkan risetnya, Rabu (18/11).

Sentimen negatif yang membayangi bursa Amerika Serikat semalam adalah semakin tingginya kasus Covid-19. Sentimen negatif lain datang dari data penjualan ritel Oktober 2020 yang tumbuh sebesar 0,3%. Hal itu lebih rendah dari konsensus yang memperkirakan penjualan ritel tumbuh 0,5%.

"Selain itu Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan bantuan stimulus dari pemerintah semakin mendesak saat ini," kata tim riset tersebut.

Video Pilihan

Artikel Terkait