Dihantam Covid-19, Penjualan Rokok HM Sampoerna Anjlok 12,5%

Laba bersih Sampoerna sepanjang Januari hingga September 2020 hanya Rp 6,91 triliun, turun hingga 32,25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 10,2 triliun.
Image title
18 November 2020, 14:11
sampoerna, HM Sampoerna, HMSP, saham, Saham HMSP, penjualan sampoerna, laba sampoerna, rokok, cukai rokok, marlboro, dji sam soe, sampoerna mild, pasar modal laba sampoerna kuartal III, penjualan rokok
ANTARA FOTO/Siswowidodo/hp.
Suasana pekerja di ruang produksi pabrik rokok PT Digjaya Mulia Abadi (DMA) mitra PT HM Sampoerna, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Pandemi Covid-19 telah membuat penjualan rokok PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami penurunan pada periode sembilan bulan 2020. Penjualan bersih HM Sampoerna hanya Rp 67,77 triliun, turun 12,55% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan melalui keterbukaan informasi, Rabu (18/11), produk sigaret kretek mesin (SKM) masih menjadi penyumbang terbesar penjualan HM Sampoerna. Hingga September 2020, perusahaan mampu menjual produk ini hingga Rp 45,28 triliun.

Meski begitu, segmen rokok SKM mengalami penurunan penjualan hingga 17,15% secara tahunan. Beberapa merek dari rokok segmen SKM ini seperti Sampoerna A Mild, Sampoerna U Mild, ataupun Philip Morris Bold.

Segmen rokok lain yang mengalami penurunan penjualan adalah sigaret putih mesin (SPM) sebesar 19,91% secara tahunan menjadi hanya Rp 6,53 triliun saja hingga triwulan III 2020. Rokok dari segmen SPM yang dipasarkan bermerek Marlboro, produk pemilik Sampoerna yaitu PT Philip Morris Indonesia.

Meski begitu, segmen rokok sigaret kretek tangan (SKT), penjualannya mengalami peningkatan hingga 9,76% secara tahunan menjadi Rp 15,36 triliun pada triwulan III 2020. Produk dari segmen SKT yang dipasarkan oleh perusahaan yaitu Dji Sam Soe dan Sampoerna Hijau.

Menurunnya penjualan juga membuat profitabilitas perseroan juga berkurang. Laba kotor HM Sampoerna per September 2020 hanya Rp 14,23 triliun. Catatan tersebut, turun hingga 24,65% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

 

Beberapa beban lain pun sebenarnya mengalami penurunan juga hingga triwulan III 2020. Seperti beban penjualan yang turun 5,83% secara tahunan menjadi Rp 4,38 triliun. Lalu, beban umum dan administrasi yang turun 16,05% secara tahunan menjadi Rp 1,48 triliun saja. Begitu juga dengan biaya keuangan turun 11,28% menjadi Rp 35,9 miliar.

Meski begitu, beberapa pos penghasilan lainnya yang relatif kecil menyumbang profitabilitas, mengalami penurunan juga. Seperti penghasilan keuangan yang turun 31,91% secara tahunan menjadi Rp 615,74 miliar saja. Penghasilan lain-lain juga turun 17,63% menjadi Rp 63,37 miliar.

Sehingga, laba sebelum pajak penghasilan tercatat mengalami penurunan hingga 33,09% secara tahunan menjadi hanya Rp 8,97 triliun. Laba bersih Sampoerna sepanjang Januari hingga September 2020 hanya Rp 6,91 triliun, turun hingga 32,25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 10,2 triliun.

Manajemen HM Sampoerna menjelaskan dampak negatif ekonomi akibat dari Covid-19 dan adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dari pemerintah. Kebijakan ini telah menyebabkan penurunan daya beli masyarakat dan perubahan prioritas belanja konsumen.

"Sehingga juga berdampak pada penurunan volume industri rokok dan perubahan preferensi rokok konsumen dewasa ke produk-produk yang lebih terjangkau di Indonesia," kata manajemen mengutip dari laporan keuangan HM Sampoerna Triwulan III 2020.

Pandemi Covid-19 juga mengakibatkan terganggunya kegiatan operasional perusahaan, seperti adaptasi kegiatan manufaktur, pengadaan barang, periklanan, dan promosi. Hal itu untuk memastikan keselamatan pemangku kepentingan dan mematuhi peraturan pemerintah. Semua ini berdampak negatif terhadap kinerja bisnis perusahaan.

Meski begitu, manajemen HM Sampoerna telah mengambil langkah-langkah keberlangsungan bisnis yang sesuai dengan kebijakan pemerintah yang berlaku untuk mengurangi dampak pandemi ini terhadap operasional dan kinerja bisnis. Selaini itu, memastikan ketersediaan produk bagi konsumen dewasa, serta memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan para karyawan.

"Manajemen akan terus memonitor perkembangan pandemi Covid-19 dan mengevaluasi dampaknya terhadap hasil usaha dan kinerja keuangan Grup secara keseluruhan," kata manajemen HM Sampoerna.

Video Pilihan

Artikel Terkait