Erick Thohir Tantang Telkom Tingkatkan Kapitalisasi Pasar Rp 450 T

Berdasarkan data RTI Infokom, nilai kapitalisasi pasar saham berkode TLKM ini pada penutupan perdagangan Kamis (19/11), baru mencapai Rp 314,03 triliun.
Image title
19 November 2020, 19:15
Telkom, telkomsel, saham, bumn, erick thohir, menteri bumn, kapitalisasi pasar telkom, bursa, saham telkom, telekomunikasi, operator telekomunikasi, tlkm, pt telkom, pt telekomunikasi indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA
Telkom

Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menantang jajaran Komisaris dan Direksi PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk alias Telkom untuk bisa meningkatkan nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia. Dia ingin kapitalisasi pasar Telkom bisa kembali ke level Rp 450 triliun.

"Saya sudah tantang lagi Komisaris dan Direksi Telkom. Kalau dulu kapitalisasi pasar mencapai Rp 450 triliun, saya mau di bawah Direksi dan Komisaris ini, valuasi Telkom harus kembali (Rp 450 triliun)," kata Erick dalam acara perayaan 25 tahun IPO Telkom, Kamis (19/11).

Berdasarkan data RTI Infokom, nilai kapitalisasi pasar saham berkode TLKM ini pada penutupan perdagangan Kamis (19/11), baru mencapai Rp 314,03 triliun. Kapitalisasi pasar Telkom memang pernah setinggi target Erick, yakni pada triwulan II 2017 yang mencapai Rp 455,61 triliun.

Erick mengatakan salah satu kunci untuk bisa meningkatkan nilai kapitalisasi pasar adalah dengan melakukan transformasi bisnis, terutama di kala pandemi Covid-19 yang mengubah banyak model bisnis banyak sektor. Dia  melihat Telkom memiliki infrastruktur besar dan bisa mendorong perubahan bisnis di tengah pandemi.

Dorongan transformasi sebenarnya sudah disampaikan Erick sejak awal tahun ini. Saat itu, dengan keras dia mengatakan lebih baik Telkom tidak ada, jika 70% pendapatannya disumbang oleh anak usahanya, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Saat itu, ia ingin Telkom melakukan perbaikan bisnis, misalnya beralih ke bisnis database, big data, dan cloud.

"Saya teringat, awal tahun ini saya buat statement keras untuk Telkom. Tidak lain, statement itu saya ingin mengajak memacu membangun Telkom kembali," ujar Erick yang pernah menjadi pemilik klub sepak bola Internazionale Milano.

 

Erick optimistis investor di pasar saham bakal berburu saham Telkom, karena percaya kepada perusahaan yang punya strategi jangka panjang dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Makanya, diperlukan transformasi bisnis, terutama pada sektor telekomunikasi dan teknologi.

Menurutnya, transformasi yang dilakukan oleh Kementerian BUMN belum besar, tapi investor sudah percaya dengan Telkom. Terlihat dari saham Telkom yang menguat beberapa waktu terakhir. Setidaknya, sebulan terakhir saham Telkom menguat 16,97% menjadi di harga Rp 3.170 per saham.

"Pasar percaya transformasi yang ada di BUMN. Karena itu saya yakinkan, dengan roadmap yang disepakati, kapitalisasi pasar yang ada di Telkom bisa kembali naik ke marwahnya seperti dulu," kata Erick.

Pada kesempatan yang sama, Komisaris Utama Telkom Rhenald Kasali mengatakan nilai kapitalisasi pasar Telkom saat ini mampu berkontribusi besar. Porsinya setara dengan 4,81% dari total kapitalisasi pasar seluruh emiten di Bursa Efek Indonesia yang senilai Rp 6.523 triliun.

"Ini adalah suatu kapitalisasi pasar yang berpengaruh cukup besar. Tentu saja, mimpi kami lebih dari itu lagi," kata Reinald dalam sambutan pada acara yang sama.

Dalam acara perayaan Telkom melantai di pasar modal dalam negeri, Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan Djustini Septiana mengatakan ada beberapa jejak penting yang sudah ditinggalkan Telkom. Telkom, melantai di pasar modal melalui skema initial public offering (IPO) pada 14 November, 25 tahun silam.

"Telkom cukup banyak berperan dalam perkembangan pasar modal Indonesia, baik aktivitas aksi korporasi, maupun aktivitas perdagangan saham di BEI," kata Djustini.

 

Jejak aksi korporasi Telkom salah satunya berupa penyediaan alternatif instrumen investasi melalui penerbitan obligasi berkelanjutan pada 2015 sebanyak 4 seri. Rentang jatuh tempo yang ditawarkan oleh Telkom, terbilang sangat panjang, yaitu 7 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 30 tahun. Tidak banyak emiten yang mampu menerbitkan instrumen dengan periode jatuh tempo yang cukup panjang.

Dari sisi aktivitas saham, Telkom pernah melakukan pemecahan nilai nominal saham alias stock split, yaitu pada 2004 dan 2013. Selain itu, melakukan pembelian kembali saham publik (buyback) dan telah mengalirkannya lagi ke publik. Sehingga, kepemilikan publik pada saham Telkom mencapai 47,9%.

"Dari seluruh aktivitas tersebut, sangat terlihat Telkom cukup berperan di pasar modal kita," kata Djustini.

Meski begitu, hingga saat ini belum ada anak usaha Telkom yang mengikuti jejak induknya untuk melantai di pasar saham melalui skema IPO. Padahal, manajemen Telkom sudah berulang kali berencana melakukan IPO anak usahanya namun rencana itu selalu kandas karena berbagai sebab.

Seperti rencana IPO PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) yang pernah diwacanakan IPO pada kuartal III 2013 dan pada tahun 2017 silam. Bahkan, pertengahan Desember 2020 lalu, Mitratel kembali diisukan segera melantai di pasar modal dalam negeri.

Video Pilihan

Artikel Terkait