Dibeli Grup Salim, Harga Saham Bank Mega Meroket 19,93%

Direktur Utama Bank Mega berharap masuknya Grup Salim bakal menjadi nilai tambah bagi perusahaan.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
8 Januari 2021, 17:03
bank mega, group salim, chairul tanjung, saham bank mega, salim beli bank mega, salim beli bank milik chairul tanjung, saham, pasar modal, bursa saham, indolife
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Pria melintasi layar elektronik pergerakan saham di Plaza Mandiri, Jakarta.

Harga saham PT Bank Mega Tbk (MEGA) meroket hingga 19,93% menjadi Rp 8.875 per saham pada perdagangan Jumat (8/1), menyentuh level auto rejection atas (ARA). Kenaikan ini sejalan dengan kabar masuknya Grup Salim menjadi pemegang saham Bank Mega.

Masuknya Grup Salim menjadi investor, ditanggapi oleh Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib. Ia berharap, Grup Salim bisa memberikan keuntungan perusahaan. "Semoga bisa menjadi added value bagi Bank Mega," kata Kostaman kepada Katadata.co.id, Kamis (7/1) malam.

Grup Salim, melalui anak usahanya yang bergerak di bidang asuransi jiwa dan dana pensiun, PT Indolife Pensiontama, baru saja melakukan pembelian saham PT Bank Mega Tbk (MEGA). Bank ini merupakan bagian dari usaha milik pebisnis Chairul Tanjung melalui PT Mega Corpora.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Indolife Pensiontama melakukan transaksi pembelian saham Bank Mega pada 30 Desember 2020. Indolife Pensiontama membeli sebanyak 422,8 juta unit saham Bank Mega dari pemegang saham publik atau setara dengan 6,07% dari total saham.

Dalam laporan KSEI yang dipublikasi 4 Januari 2021 tersebut, tidak dijelaskan Indolife Pensiontama membeli saham melalui pasar reguler atau non-reguler. Hanya saja, pembelian saham tersebut dilakukan dalam tiga kali transaksi masing-masing membeli 304,61 juta, 22,62 juta, dan 95,57 juta unit saham.

Dengan masuknya Indolife Pensiontama, komposisi pemegang saham Bank Mega pun berubah. Mega Corpora yang merupakan lini bisnis CT Corp, masih memegang 58,01% saham Bank Mega. Sedangkan pemegang saham publik, yang sebelumnya berporsi 41,98% menjadi sebesar 35,91%.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama belum memiliki gambaran terkait pengaruh pada bisnis Bank Mega setelah masuknya Grup Salim. "Dari manajemennya sendiri juga belum klarifikasi kepentingannya apa, sehingga saya belum bisa bicara untuk saat ini," ujarnya kepada Katadata.co.id.

Okie juga mencermati terkait dengan likuiditas saham Bank Mega. Pasalnya, meski harganya naik, namun frekuensi perdagangan saham Bank Mega hari ini hanya 79 kali dengan total volume 146 ribu unit saham sehingga menghasilkan total transaksi Rp 1,28 miliar.

"Pergerakan yang masif pada hari ini, tidak didukung dengan volume yang signifikan. Sehingga ada potensi kenaikan yang tidak begitu kuat," kata Okie. Untuk saat ini, pihaknya lebih memilih rekomendasi wait and see pada saham Bank Mega.

Berdasarkan website resminya, Indolife Pensiontama merupakan perusahaan yang bergerak dibidang asuransi jiwa dan dana pensiun yang sahamnya dimiliki oleh Grup Salim. Bisnis perusahaan dimulai sejak 1991 melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 585.

Berdasarkan laporan keuangan hingga triwulan III 2020, Indolife Pensiontama mampu membukukan laba bersih mencapai Rp 1,17 triliun, naik drastis dari periode sama tahun sebelumnya yang hanya Rp 47,1 miliar. Kenaikan laba bersih tersebut, disokong oleh pendapatan perusahaan yang tercatat naik 2,31% menjadi Rp 9,65 triliun.

Kenaikan pendapatan tersebut dihasilkan dari kenaikan hasil investasi sebesar 104% menjadi Rp 3,61 triliun. Pendapatan juga terdiri dari pendapatan premis, dimana nilai bersihnya Rp 6,03 triliun. Sayangnya, pendapatan premi neto tersebut turun 21,29%.

Video Pilihan

Artikel Terkait