Erick Thohir Ungkap Rahasia di Balik Meroketnya Saham-Saham BUMN

Erick menilai saham BUMN bisa melaju lebih tinggi dari jajaran saham unggulan yang masuk dalam indeks LQ45.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
20 Januari 2021, 18:30
saham bumn, kementerian bumn, bumn, antam, kimia farma, bank syariah indonesia, bri syariah, bank mandiri, BRI, BNI, BTN, indofarma, indeks lq45, saham, pasar modal, erick thohir
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan saham-saham perusahaan pelat merah mendapatkan apresiasi dari investor. Ia menilai saham BUMN bisa melaju lebih tinggi dari jajaran saham unggulan yang masuk dalam indeks LQ45.

"Saham-saham BUMN sangat positif di Bursa, yang tidak lain karena dua hal," ujar Erick dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (20/1).

Faktor pertama yang membuat saham perusahaan pelat merah bisa melonjak tinggi, karena penerapan tata kelola perusahaan yang baik alias Good Corporate Governance (GCG). Sehingga, BUMN menjadi sangat terbuka dan kinerjanya bisa dipantau oleh publik.

Faktor kedua, BUMN mengerjakan proyek-proyek yang berorientasi di masa depan. Seperti proyek mobil listrik yang membutuhkan baterai (electric vehicle battery), dimana salah satu bahan bakunya adalah nikel. Sehingga, saham-saham BUMN yang memproduksi nikel, mendapatkan sentimen positif.

Sebut saja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang sahamnya melaju hingga 398% dalam enam bulan terakhir. Saham PT Timah Tbk (TINS) juga melaju kencang pada periode tersebut hingga 257%. Termasuk saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang mampu menguat hingga 112%.

"Inilah kenapa kami lakukan juga strategi jangka panjang untuk masing-masing BUMN. Terbukti, akhirnya orang percaya Antam sebagai penyuplai nikel salah satunya, tentu sahamnya menjadi baik," kata Erick.

Proyek masa depan lainnya yang dimaksud Erick seperti dari industri perbankan. "Di bank-bank yang pada saat ini mendapat sinergitas ultra mikro ataupun bank syariah yang sahamnya sangat dipercaya."

Kementerian BUMN berencana untuk mengkonsolidasikan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk mengakselerasi bisnis ultra mikro. Saham BBRI pun dalam enam bulan terakhir mampu naik 60,86%.

Sedangkan pada perbankan syariah, Kementerian BUMN tinggal selangkah lagi mendapatkan izin untuk melakukan merger. PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS) yang menjadi entitas penerima penggabungan, harga sahamnya sudah meroket hingga 821% hanya dalam 6 bulan.

Selain perusahaan tambang dan perbankan, saham-saham farmasi BUMN dalam beberapa waktu terakhir juga tercatat menguat. Meski begitu, Erick tidak menyinggung perihal kenaikan harga saham industri farmasi dalam rapat tersebut.

Seperti saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) yang dalam enam bulan terakhir ini mengalami kenaikan signifikan hingga 327%. Begitu pula dengan saham PT Indofarma Tbk (INAF) yang dalam rentang waktu tersebut mampu naik hingga 366%.

Video Pilihan

Artikel Terkait