Resmikan Bank Syariah Indonesia, Jokowi: Harus Jadi Bank Universal

"Jangan berpikir BSI ini hanya untuk umat muslim saja, yang non-muslim juga harus diterima dan disambut baik menjadi nasabah BSI," kata Jokowi
Image title
1 Februari 2021, 15:42
bank syariah indonesia, syariah, bank syariah, bri syariah, saham, pasar modal, perbankan, bumn, bris, bsi, muslim, jokowi, jokowi resmikan bank syariah, bank syariah terbesar, bank syariah mandiri, bni syariah
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/rwa.
Pekerja merapikan logo Bank Syariah Indonesia di Jakarta, Minggu (31/1/2021). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi mengeluarkan izin penggabungan usaha tiga bank syariah milik BUMN yaitu PT Bank Mandiri Syariah, PT BNI Syariah, dan PT BRI Syariah yang nantinya akan bernama PT Bank Syariah Indonesia dan akan efektif pada Senin, 1 Februari 2021.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan penggabungan tiga bank syariah BUMN menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) pada Senin (1/2). Sebagai bank syariah dengan nilai aset terbesar di Indonesia, Jokowi berpesan empat hal untuk bank milik negara itu.

"Bank Syariah Indonesia harus benar-benar menjadi bank syariah yang universal," kata Jokowi dalam sambutan peresmian syariah hasil merger bank syariah BUMN tersebut di Istana Negara, Jakarta, Senin (1/2).

Jokowi mengatakan BSI harus terbuka dan inklusif dengan menyambut baik siapapun yang ingin menjadi nasabah agar menjangkau banyak masyarakat di Tanah Air. Semua yang ingin bertransaksi atau berinvestasi secara syariah, harus disambut sebaik-baiknya.

"Jadi, jangan berpikir BSI ini hanya untuk umat muslim saja, yang non-muslim juga harus diterima dan disambut baik menjadi nasabah BSI," kata Jokowi sebagai pesan pertamanya untuk BSI.

Pesan selanjutnya, BSI harus bisa memaksimalkan penggunaan teknologi digital. Digitalisasi ini wajib agar bisa menjangkau masyarakat yang selama ini belum terjangkau oleh layanan perbankan nasional lainnya.

Pesan ketiga, Jokowi mengharuskan BSI menarik minat generasi muda milenial untuk menjadi nasabahnya. Pasalnya, jumlah generasi muda milenial Indonesia saat ini mencapai 25,87% dari total 270 juta penduduk Indonesia. "Ini sebuah jumlah yang sangat besar," katanya.

Terakhir, orang nomor satu di Indonesia ini berpesan terkait produk dan layanan keuangan syariah BSI harus kompetitif dan harus memenuhi kebutuhan berbagai segmen konsumen. Mulai dari UMKM, korporasi, sampai ritel.

"BSI harus mampu memfasilitasi agar nasabah naik kelas dan menjadi tulang punggung ekonomi negara kita," ujarnya.

Infografik_Formasi baru 3 bank syariah bumn
Infografik_Formasi baru 3 bank syariah bumn (Katadata)

 

Sebagai barometer perbankan syariah di Indonesia, serta diharapkan nantinya menjadi barometer regional dan dunia, ia sangat berharap BSI bisa jeli dan gesit menangkap peluang. Selain itu, harus mampu menciptakan tren-tren baru dalam perbankan syariah dan bukan hanya mengikuti tren yang sudah ada.

Indonesia sudah lama dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia dan status tersebut dinilai Jokowi sebagai identitas global Indonesia dan menjadi kebangggaan. Maka sudah sewajarnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang terdepan dalam hal perkembangan ekonomi syariah.

Menteri BUMN Erick Thohir yang turut hadir dalam acara peresmian di istana tersebut, mengatakan pendirian BSI tidak sekedar untuk mengejar kebanggaan semata. Menurutnya, Indonesia sudah sepantasnya memiliki bank syariah besar dan kuat.

Hal itu yang akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi serta keuangan syariah dunia. Karena itu, merger tiga bank umum syariah Himbara negara dilakukan untuk mewujudkan visi tersebut.

“Jadilah energi baru bagi ekonomi Indonesia yang senantiasa menerapkan prinsip financial justice dan stability in investment yang telah terbukti berhasil membawa tiga bank Syariah yang bergabung menjadi BSI," kata Erick.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi menyampaikan, integrasi dan peningkatan nilai bank syariah BUMN ini dimulai sejak awal Maret 2020 dan memakan waktu sekitar 11 bulan untuk seluruh proses dan rangkaian merger.

Ketiga bank syariah tersebut, yaitu BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah melalui proses seperti due diligence, penandatangan akta penggabungan, penyampaian keterbukaan informasi, dan perolehan izin dari OJK.

"Rangkaian itu telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan ketentuan. Hari ini 1 Februari 2021, bank hasil penggabungan sudah mulai beroperasi dengan nama dan identitas baru," kata Hery.

Nama Bank Syariah Indonesia dipilih karena manajemen dan pemegang saham ingin bank syariah dapat menjadi representasi Indonesia, baik di tingkat nasional maupun global. Logo memiliki bintang bersudut 5, merepresentasikan 5 sila pancasila dan 5 rukun Islam.

Sebagai bank hasil penggabungan, posisi Desember 2020, BSI memiliki total aset sebesar Rp 240 triliun, total pembiayaan Rp 157 triliun, dana pihak ketiga mencapai Rp 210 triliun, dan modal inti sebesar Rp 22,6 triliun. Bank syariah juga memiliki 1.200 kantor cabang dan 20 ribu karyawan yang tersebut di seluruh Indonesia.

"Kami sadar bahwa tugas kami bukan hanya sekedar menggabungkan 3 bank ini, melainkan dalam waktu bersamaan melakukan transformasi seperti perbaikan proses bisnis, penguatan risk management, penguatan dari sisi sumber daya insani, serta penguatan teknologi digital," kata Hery.

Untuk itu, BSI berkomitmen menjadi lembaga perbankan yang melayani segala lini masyarakat, menjadi bank yang modern, serta inklusif, dan memberikan pelayanan seluruh masyarakat dengan menjunjung tinggi prinsip syariah. Sehingga, menjadi bank yang dipilih nasabah karena memiliki produk yang kompetitif dan layanan yang prima sesuai kebutuhan nasabah.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait