Selepas Suspensi, Harga Saham Bank Bumi Arta Melejit Lagi 17%

Saham berkode emiten BNBA ini sempat menyentuh harga Rp 1.425 per saham, artinya menguat 22,3% dibanding harga penutupan sebelum di suspensi.
Image title
19 Februari 2021, 15:53
saham, bursa efek indonesia, bank bumi arta, shopee, sea group, bank digital, pasar modal, bnba
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Bursa Efek Indonesia

Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka penghentian sementara perdagangan atas saham PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) di pasar reguler dan pasar tunai pada Jumat (19/2). Saham ini sempat terkena suspensi sehari sebelumnya, karena secara kumulatif bergerak menguat.

"Suspensi atas perdagangan saham BNBA di pasar reguler dan pasar tunai dibuka kembali mulai perdagangan sesi I tanggal 19 Februari 2021," seperti tertulis dalam pengumuman Bursa bernomor Peng-UPT-0027/BEI.WAS/02-2021 tersebut.

Tampaknya suspensi tidak menghalangi naiknya saham Bank Bumi Arta. Pada awal perdagangan hari ini, setidaknya hingga pukul 10.17 WIB, saham berkode emiten BNBA ini sempat menyentuh harga Rp 1.425 per saham, artinya menguat 22,3% dibanding harga penutupan sebelum di suspensi.

Sebelum Bursa melakukan suspensi, saham Bank Bumi Arta berada di harga Rp 1.165 per saham. Padahal, pada perdagangan Rabu (10/2) harganya masih Rp 480 per saham. Artinya, hanya dalam 4 hari perdagangan, sahamnya sudah naik hingga 142%.

Kenaikan harga kumulatif secara signifikan ini yang membuat Bursa akhirnya menghentikan sementara saham Bank Bumi Arta. Bahkan, Bursa juga memasukkan saham ini ke dalam daftar Unusual Market Activity (UMA) sejak 16 Februari 2021.

"Pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal," seperti dijelaskan dalam pengumuman UMA tersebut.

Kenaikan ini, sejalan dengan kabar induk usaha e-commerce Shopee, yakni Sea Group, tertarik untuk mengakuisisi bank tersebut. Berdasarkan sumber Katadata.co.id dan D-Insights Sea Group berambisi untuk menambah lagi kepemilikan di industri perbankan.

Sumber tersebut mengatakan, ada dua bank potensial yang membuat Sea Group tertarik. Bank potensial lainnya adalah PT Bank Capital Tbk (BACA). Sea Group saat ini sebenarnya secara tidak langsung telah menguasai saham PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE).

Meski begitu, kedua bank yang diisukan bakal dicaplok oleh Sea Group tersebut mengaku belum mengetahui soal kabar tersebut. "Perseroan juga baru mengetahui berita dimaksud dari media atau surat kabar," kata Presiden Direktur Bank Bumi Arta Wikan Aryono melalui keterbukaan informasi.

Kenaikan Harga Masih Wajar, Tapi Investor Perlu Waspada

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama mengatakan, saat ini ekpektasi pelaku pasar cukup tinggi terkait rumor terkait induk usaha Shopee. Namun, pelaku pasar perlu juga mengantisipasi rumor ini, karena manajemen belum mengkonfirmasi adanya aksi korporasi ini.

Dia menilai harga saham Bank Bumi Arta saat ini masih tergolong wajar. Hal itu terlihat dari data rasio harga saham dengan nilai buku alias price to book value (PBV) yang masih di level 1,41 kali. "Berada pada harga yang wajar," kata Okie kepada Katadata.co.id, Jumat (19/2).

Biasanya investor strategis akan mempertimbangkan valuasi harga Bank Bumi Arta terkait akuisisi, apabila harga pasar telah melebihi nilai dasarnya.

Ketertarikan Sea Group mengakuisisi bank lagi, merupakan bagian dari ambisi perusahaan untuk memperluas bisnis perbankan digital di pasar Tanah Air. Akuisisi tahap kedua juga sejalan dengan permintaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada investor untuk mengakuisisi dua bank sekaligus untuk mempercepat konsolidasi perbankan.

Sumber Katadata.co.id menyebutkan, OJK meminta Sea Group untuk membeli unicorn sebagai pengganti perusahaan cangkang alias special purpose vehicle (SPV). Hingga perdagangan hari ini, Bank Capital memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 3,35 triliun. Sementara market cap Bank Bumi Arta mencapai Rp 1,39 triliun.

Meski kedua bank telah memiliki modal inti di atas ketentuan OJK pada 2020, namun keduanya masih membutuhkan tambahan modal lagi untuk mengikuti peraturan OJK 2021 di mana minimal modal inti Rp 2 triliun. Salah satu caranya adalah mendapatkan suntikan modal dari investor.

Yang jelas, akuisisi bank tersebut merupakan keseriusan Sea Group dalam menjalankan bisnis bank digital. Keseriusan tersebut timbul setelah mendapatkan lisensi bank digital dari Monetary Authority of Singapore (MAS) pada Desember 2020.

Video Pilihan

Artikel Terkait