Pendapatan 2020 Astra Turun 26%, Lini Agribisnis & Properti Masih Naik

Bisnis otomotif yang merupakan penyumbang terbesar laba Astra International menurun hingga 67,78% pada tahun lalu.
Image title
25 Februari 2021, 20:11
Menara Astra
Dokumentasi Astra
Bisnis otomotif yang merupakan penyumbang terbesar laba Astra International menurun hingga 67,78% pada tahun lalu.

Penjualan mobil yang anjlok sepanjang 2020 berdampak buruk terhadap kinerja keuangan PT Astra International Tbk (ASII). Bisnis otomotif yang lesu membuat perolehan laba bersih Astra menurun hingga 25,54% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp 16,16 triliun.

Sebenarnya, laba bersih Astra tahun lalu anjlok 52,63% menjadi Rp 10,28 triliun. Perolehan laba bersih Astra tertolong penjualan saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) dengan keuntungan Rp 5,88 triliun.

Dalam rilis terkait laporan keuangan 2020, Astra mencatatkan penurunan pendapatan hingga 26,19% menjadi Rp 175,04 triliun. Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro mengatakan, penurunan pendapatan dan laba bersih Astra akibat dampak dari pandemi Covid-19 dan upaya penanggulangannya.

Menyebarnya virus corona yang mulai ditetapkan sebagai pandemi dunia sejak Maret 2020, menyebabkan penurunan kinerja divisi otomotif, alat berat dan pertambangan, dan jasa keuangan Astra. Alhasil, sumbangan laba dari masing-masing divisi bisnis ini pun anjlok.

"Kami memperkirakan kondisi ini akan berlangsung selama beberapa waktu dan masih terlalu dini untuk memprediksi dampak pandemi terhadap kinerja Astra pada 2021," kata Djony melalui siaran pers, Kamis (25/2).

Berdasarkan kegiatan bisnisnya, mayoritas laba bersih yang diatribusikan ke Astra mengalami penurunan. Baik lini bisnis otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, konstruksi, energi, infrastruktur, logistik, dan teknologi informasi mengalami penurunan. Hanya Agribisnis dan properti yang mengalami kenaikan secara tahunan.

 

Bisnis Otomotif Astra

Dari sektor otomotif, laba bersih yang diatribusikan ke Astra pada 2020 senilai Rp 2,7 triliun atau turun 67,78% dari 2019. Bisnis ini merupakan penyumbang laba terbesar Astra International.

Penjualan mobil Astra pada 2020 menurun 50% menjadi 270.000 unit. Penurunan ini lebih besar dari penurunan penjualan mobil nasional sebesar 48% menjadi 532.000 unit pada tahun 2020 berdasarkan data Gaikindo.

Penjualan sepeda motor Honda juga menurun 41% menjadi 2.892.000 unit. Namun, penurunannya lebih rendah dari penjualan sepeda motor secara nasional yang mencapai 44% menjadi 3.663.000 unit.

Bisnis komponen otomotif Astra dengan kepemilikan 80% di PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), mencatatkan penurunan laba bersih dari Rp740 miliar menjadi Rp2 miliar pada 2020. "Terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari segmen pabrikan, pasar suku cadang pengganti, dan segmen ekspor," kata Djony.

Sebenarnya, setelah mengalami kerugian bersih pada kuartal kedua, divisi otomotif Astra kembali mencatatkan keuntungan pada semester kedua 2020. Hal itu setelah adanya pelonggaran penerapan langkah-langkah penanggulangan pandemi Covid-19.

Bisnis Jasa Keuangan Astra

Sektor bisnis jasa keuangan Astra sepanjang 2020 hanya menyumbang laba bersih Rp 3,31 triliun turun 43,55%. Penurunan ini terutama disebabkan peningkatan provisi guna menutupi peningkatan kerugian kredit bermasalah pada bisnis pembiayaan konsumen dan alat berat.

Nilai pembiayaan baru pada bisnis pembiayaan konsumen Astra menurun 23% menjadi Rp 67 triliun. Kontribusi laba bersih dari perusahaan yang fokus pada pembiayaan mobil menurun 46% menjadi Rp 803 miliar. Sementara kontribusi laba bersih dari PT Federal International Finance (FIF) yang fokus pada pembiayaan sepeda motor menurun 42% menjadi Rp 1,5 triliun.

Total pembiayaan baru yang disalurkan oleh unit usaha Astra yang fokus pada pembiayaan alat berat turun sebesar 17% menjadi Rp 3,6 triliun. Kontribusi laba bersih dari divisi ini menurun 59% menjadi Rp 40 miliar.

PT Asuransi Astra Buana mencatat penurunan laba bersih sebesar 16% menjadi Rp 912 miliar, terutama disebabkan penurunan underwriting income. Perusahaan asuransi jiwa Astra Life mencatatkan premi kotor (gross written premium) Rp3,8 triliun, meningkat 11% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada November 2020, Astra mengakuisisi tambahan 49,99% saham PT Astra Aviva Life (PT Asuransi Jiwa Astra) dari Aviva International Holdings Limited. Karena aksi korporasi ini Astra menjadi memegang saham asuransi tersebut 99,99%.

Bisnis Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi

Sektor bisnis ini juga mengalami penurunan laba hingga 48,89% menjadi Rp 3,43 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan penjualan alat berat dan volume kontrak penambangan yang lebih rendah akibat melemahnya harga batu bara hampir sepanjang tahun.

PT United Tractors Tbk (UNTR) yang 59,5% sahamnya dimiliki Astra, melaporkan penurunan laba bersih 47% menjadi Rp 6 triliun. Anak perusahaan UNTR di bidang pertambangan melaporkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 9% menjadi 9,3 juta ton, termasuk penjualan 1,9 juta ton coking coal.

"Kinerja bisnis ini terpengaruh oleh harga batu bara yang lebih rendah," kata Djony.

Anak usaha UNTR lainnya, PT Acset Indonusa Tbk (ACST), melaporkan rugi bersih sebesar Rp1,3 triliun. Rugi ini terutama karena perlambatan penyelesaian beberapa proyek yang sedang berjalan dan berkurangnya pekerjaan konstruksi proyek selama masa pandemi Covid-19.

Agribisnis

Salah satu 'penyelamat' kinerja Astra sepanjang 2020 adalah sektor agribisnis karena sektor ini mampu menyumbang laba Rp 664 miliar atau meroket hingga 295,24%. Kenaikan ini, terutama dipengaruhi harga minyak kelapa sawit.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang 79,7% sahamnya dimiliki Astra, melaporkan peningkatan laba bersih dari Rp 211 miliar menjadi Rp 833 miliar. Terutama disebabkan oleh harga minyak kelapa sawit yang lebih tinggi, sebesar 28% menjadi Rp 8.545/kg. Volume penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya menurun sebesar 14% menjadi 2 juta ton.

Harga Saham Astra di Bursa Sepanjang 2020

Astra International didirikan di Jakarta pada 1957 sebagai sebuah perusahaan perdagangan umum dengan nama Astra International Inc. Pada 1990, dilakukan perubahan nama menjadi PT Astra International Tbk, dalam rangka penawaran umum perdana saham kepada masyarakat.

Sepanjang 2020, tahun awal pandemi Covid-19 melanda banyak negara, kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penurunan 5,09% menjadi di level 5.979 pada 30 Desember 2020. Sementara, harga saham Astra mengalami penurunan hingga 13% menjadi Rp 6.025 per saham.

Harga saham Astra tercatat paling tinggi pada 15 Januari 2020 di harga Rp 7.200 per saham, sebelum WHO menetapkan Covid-19 menjadi pandemi. Sementara, harga terendah terjadi pada 24 Maret 2020 di harga Rp 3.280 per saham, sesaat setelah penetapan Covid-19 menjadi pandemi.

Video Pilihan

Artikel Terkait