Cegah Penggiringan, BEI Hapus Kode Broker Saham dan Asal Investor

Image title
25 Februari 2021, 18:06
perdagangan saham, bursa, bursa efek indonesia, saham, pasar modal, kode broker, investor asing, running trade
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Bursa Efek Indonesia.

Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal menghilangkan informasi kode broker dan tipe investor pada tampilan running trade secara realtime. Informasi tersebut hanya tersedia pada akhir sesi perdagangan setiap harinya.

Penghilangan informasi kode broker akan diterapkan mulai 22 Juli 2021. Sedangkan penutupan informasi tipe investor (asing atau domestik) secara realtime, dilakukan enam bulan setelahnya.

Advertisement

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo menjelaskan dua alasan mengapa kebijakan baru ini diterapkan. Pertama, untuk meningkatkan tata kelola pasar (market governance) dengan mengurangi kebiasaan menggiring pasar ke saham-saham (herding behavior).

"Kedua, mengurangi kebutuhan bandwidth data yang menyebabkan latency atau keterlambatan dalam aktivitas perdagangan dikarenakan meningkatnya frekuensi transaksi akhir-akhir ini," kata Laksono kepada awak media, Kamis (25/2).

Peningkatan frekuensi yang terjadi seiring dengan meningkatnya investor ritel di Tanah Air ini, menyebabkan beban berat pada data transmisi di BEI. Saat ini, mesin yang dipakai Bursa merupakan buatan Nasdaq dan data protocol buatan Itch and Ouch pun sudah terpaksa dimodifikasi untuk mengakomodasi peningkatan transaksi.

"Kalau frekuensi transaksi masih rendah, tidak terlalu masalah. Tapi kalau frekuensi transaksi naik, mulai terasa bebannya. Kami harus ambil best practices yang ada di bursa-bursa lain," kata Laksono.

Ia menjelaskan, praktik penghapusan kode broker dan domisili investor secara realtime, bukan hal yang asing di pasar modal. Bursa-bursa di negara lain sudah menerapkan hal serupa.

Laksono memastikan, data-data transaksi lengkap tetap dapat diakses pada akhir hari. Sehingga, penghapusan informasi kode broker dan domisili investor secara realtime, tidak membuat Bursa semakin tertutup. "Karena memang begitu praktiknya di bursa-bursa lain di dunia," katanya.

Bursa pun mengaku sudah menampung aspirasi dari pelaku industri terkait kebijakan baru tersebut. Meski ada yang tidak setuju, tapi menurut Laksono, mayoritas menyambut baik karena bisa memperbaiki market conduct untuk ke depannya.

Halaman:
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.

Artikel Terkait

Advertisement